Dunia Kerja Inklusi dan Semangat untuk Bertahan Hidup

Oleh: Khoirul A*

SuaraKita.org – Transgender Day of Remembrance yang diperingati setiap 20 November senantiasa dipahami sebagai hari untuk mengenang teman-teman transgender yang kehidupannya direnggut paksa oleh kebencian dan kekerasan. Meski begitu, ini bukan hanya tentang mereka yang telah meninggal, tetapi juga tentang mereka yang terus bertahan hidup di tengah gempuran diskriminasi yang menghimpit dan kerap memaksa mereka berpikir seolah kematian lebih baik daripada kehidupan.

Andi adalah seorang transpria yang pada kesempatan ini berkenan menceritakan pengalamannya di dunia kerja kepada Suara Kita. Sama seperti transgender lain, pada awalnya ia sangat kesulitan mendapatkan pekerjaan formal. Ia menceritakan bagaimana banyak perusahaan menolaknya karena mereka tidak ingin mengambil risiko dengan menerima karyawan transgender. Bagi perusahaan-perusahaan ini, masih banyak kandidat lain yang bisa diterima, yang “cisgender” sehingga dianggap tidak berisiko ke depannya.

Hal tersebut Andi simpulkan dari pengalamannya ketika melamar pekerjaan di suatu tempat bersama seorang kandidat cisgender. Sekalipun CV-nya layak dan ia aktif dalam FGD, pada akhirnya ia tetap ditolak. Saat mencoba melamar untuk posisi lain di tempat yang sama pada batch berikutnya, CV-nya langsung tidak diterima.

“Kalau di suatu tempat kerja gue masih ingat, itu kan didata cuma dua orang, gue satu, sama satu lagi. Tentu yang satu lagi cisgender. Waktu itu posisi yang dicari supervisor. Tapi gue yakin, pasti di balik itu semua ada omongan, ‘ya sudah cari yang normal saja lah. Cari yang benar-benar saja, daripada cari yang enggak normal.’ Ya Allah, makhluk itu banyak, yang normal itu banyak. Jadi enggak usah nyari yang enggak normal. Kebanyakan cara mereka berpikir ya begitu.”

Ini bukan kejadian satu-satunya yang dialami Andi. Menurutnya, seorang transgender di dunia kerja formal sering kali dituntut punya kemampuan lebih, yang pada akhirnya membuat perusahaan merasa posisi seorang transgender tidak tergantikan. Dengan cara ini, perusahaan tidak akan menolak transgender demi memilih kandidat lain yang cisgender. Meski begitu, bagi Andi hal ini tidak adil karena usaha yang harus dikeluarkan seorang transgender terasa lebih berat demi memiliki posisi tawar yang sama dengan kandidat cisgender.

“Kalaupun akhirnya mereka terpaksa menerima, biasanya karena kita punya kapasitas, atau dituntut punya kapasitas yang lebih daripada kandidat cisgender lainnya. Itu membuat perusahaan atau user tidak punya pilihan selain memilih kandidat transgender. Cuma jadinya enggak enak ya. Menurut gue itu tidak adil, karena kita dipaksa. Bagi mereka kita enggak normal, tapi karena dianggap enggak normal, kita harus punya hal lain supaya diterima, supaya punya bargaining position. Menurut gue itu enggak adil.”

Bahkan demi mendapatkan pekerjaan, Andi rela digaji berapa saja, termasuk jauh di bawah standar kandidat cisgender. Baginya, ini adalah “daya tawar” agar ia setidaknya dipertimbangkan.

“Waktu itu aku masih ingat banget, aku ngelamar kerja apa saja. Mau dibayar berapa pun aku mau, karena yang aku butuhkan adalah pekerjaan dengan gaji stabil. Jadi mau dibayar murah pun enggak masalah. Yang penting mau. Dibayar sebulan satu juta setengah pun enggak apa-apa.”

Sulitnya mendapatkan tempat kerja inklusif membuat perjalanan karier Andi terganggu. Sekalipun ia mendapat pekerjaan formal, ketimpangan lingkungan kerja inklusif membuat pengalaman kerjanya tidak seragam. Padahal Andi ingin menjadi seorang spesialis di bidang tertentu.

“Gue sebenarnya pengen jadi spesialis. Kalau jadi spesialis itu enak. Gue spesialis di sini, jadi ya sudah itu. Gue sebenarnya pengen jadi spesialis, tapi kayaknya semesta mengasah gue menjadi generalis. Jadi agak sebel juga, tapi ya sudahlah.”

Bagi Andi, tempat kerja bukan sekadar tempat untuk mendapatkan penghasilan stabil, tetapi juga tempat untuk mendapatkan dukungan berupa validasi keterampilan yang meningkatkan semangat hidup dan daya juang seorang transgender.

“Sebenarnya gue bisa banyak hal. Gue bisa belajar cepat banyak hal. Cuma karena tidak ada yang memvalidasi, gue bingung, sebenarnya punya skill apa sih? Itu membuat aku waktu itu kesulitan bikin CV. Saat harus menulis pengalaman dan skill, aku bingung, aku bisa apa ya? Pengalaman aku cuma jualan, dan menurut aku jualan itu semua orang bisa. Jadi mungkin aku juga mencari pekerjaan selain untuk penghasilan stabil, juga untuk mendapatkan validasi. Validasi keterampilan itu kan support. Dukungan-dukungan dari orang yang paham bahwa ‘oh, anak ini bisa’, itu bantu aku diarahkan.”

Dalam melihat Transgender Day of Remembrance, Andi memahaminya bukan semata untuk mengenang mereka yang telah meninggal karena kebencian dan kekerasan, tetapi juga untuk mengingat kehidupan transgender yang penuh perjuangan.

“Tapi menurutku, selain itu, ini jadi refleksi bersama untuk mengenang yang sudah berpulang dan melihat kembali perjuangan mereka. Karena setiap kawan yang sudah berpulang itu punya perjuangannya masing-masing, ada jejak dan hasil perjuangannya. Tidak mungkin tidak ada yang ditinggalkan, pasti ada. Meski sedikit, itu tetap punya efek. Dan perjuangan mereka selama hidup pun banyak. Untuk bertahan hidup saja sudah susah.”

Kesulitan mendapatkan pekerjaan juga sempat membuat Andi terpikir menjadi penjaja seks. Meski begitu, ia terus berusaha memperoleh pekerjaan formal yang layak.

“Bahkan selama enggak dapat kerja, aku sempat hampir jadi pekerja seks, walaupun memang belum kesampaian. Secara praktik belum, tapi di pikiran ada. Aku sempat ngomong ke temanku, kayaknya gue mau nyari pelanggan, open BO gitu. Gue yakin pasti ada saja orang yang mau sama transpria, atau punya fantasi apa. Gue ladenin lah, walaupun jadi objek atau fantasi seksual, enggak apa-apa. Tapi temanku bilang, emang lo bisa? Soalnya dia tahu gue disentuh orang saja menjauh, apalagi ke situ. Terlalu polos. Memang belum sampai, tapi kenapa bisa sampai kepikiran? Karena kita enggak ada pilihan. Sesulit itu.”

Kesulitan yang dihadapi Andi membuatnya sampai pada satu kesimpulan bahwa pencapaian tertingginya sejauh ini adalah bertahan hidup.

“Buat gue, salah satu pencapaian tertinggi itu bertahan hidup. Jujur saja, kawan-kawan yang sudah berpulang sering bikin gue mikir. Kadang muncul rasa capek yang sampai di titik ‘udah, gue mau mati’. Rasa ingin mengakhiri hidup itu muncul di banyak dari kita. Jadi ketika ada teman yang pergi duluan, gue bingung harus merasa apa.”

Transgender Day of Remembrance memunculkan perasaan aneh bagi Andi. Di satu sisi ia sedih mengenang transgender yang meninggal karena kebencian dan kekerasan. Di sisi lain, ia merasa iri karena penderitaan mereka sudah berakhir.

“Di satu sisi sedih. Kita enggak bisa ketemu lagi, enggak bisa bercanda lagi, enggak bisa curhat. Tapi di sisi lain ada perasaan aneh yang kayak… mereka sudah selesai. Mereka enggak perlu berjuang keras lagi untuk bertahan hidup. Enggak perlu waspada, enggak perlu takut dikejar orang transphobik, enggak perlu menghadapi tekanan seberat yang kita hadapi setiap hari. Sementara gue yang masih hidup merasa, bisa sampai titik ini pun sudah pencapaian besar. Tidak semua orang bisa bertahan. Kalau suatu hari kita pulang juga, mungkin memang sudah selesai saja. Itu yang bikin gue bingung dengan perasaan sendiri.”

Meski begitu, ia tetap mengucapkan terima kasih kepada dirinya sendiri karena mampu bertahan sejauh ini.

“Tapi dari semua itu, gue belajar untuk ingat satu hal: ada rasa syukur. Bukan syukur karena mereka meninggal, tentu bukan. Tapi syukur atas hidup kita sendiri. Kita mengenang mereka, tapi di saat yang sama kita perlu berterima kasih pada diri kita sendiri. Karena sudah bisa bertahan sejauh ini. Karena sudah melewati banyak luka, ketakutan, tekanan. Kadang lu pernah merasa di titik kayaknya gue mati deh abis ini, misalnya waktu lu pernah di Rukiya dan lu pikir enggak bakal lolos. Tapi ternyata lu masih hidup. Masih di sini. Jadi sering-seringlah berterima kasih pada diri sendiri. Hidup itu keras, dan nyawa itu berarti.”

Andi juga memberi pesan bagi transgender lain agar tidak berhenti memperjuangkan kehidupan yang adil dan setara. Bagaimanapun, transgender berhak hidup layak dan diperlakukan sama seperti cisgender.

“Gue kadang merasa kalau ngomong ‘jangan menyerah’ kedengarannya kayak toxic positivity. Tapi sebenarnya maksud gue bukan itu. Yang gue maksud adalah jangan berhenti. Capek itu wajar. Hidup memang capek. Gue masih ingat dulu gue pikir umur gue cuma sampai 25. Itu target gue. Tapi sekarang gue sudah lewat 30, sudah 31. Makanya gue bilang pencapaian tertinggi gue adalah bertahan hidup. Karena dulu gue cuma berharap bisa sampai 25. Hidup ini capek, itu jelas. Tapi teman-teman… jalanin saja. Hadapin saja. Ngeluh? Enggak apa-apa. Mau ngomel, mau marah, mau bilang dunia berengsek, itu manusiawi. Yang penting jangan diam ketika disakiti. Apalagi kalau sampai ada kekerasan fisik. Tetap lawan. Dan satu hal lagi: jangan pernah mau dibayar murah di pekerjaan. Jangan mau dimanfaatkan orang. Kalian itu berharga. Kalian punya nilai. Kalian punya posisi yang sama seperti orang lain. Jangan anggap diri rendah. Jangan anggap diri ‘tidak normal’. Jangan pernah merasa pantas diinjak. Bangkit. Tunjukkan bahwa kita semua bisa. Kita semua berhak hidup layak. Kita semua berhak atas pekerjaan yang layak. Kita semua berhak mendapatkan hal yang sama seperti orang lain.”

 

*Penulis adalah relawan jurnalis di Suara Kita. Penulis pernah berkontribusi konten di Pelangi Dharma dan di media sosial lainnya.