Free To Be Me: Suara Kita dan Jalan Panjang Menuju Ruang Kerja Inklusif

SuaraKita.org – Di sebuah ruang komunitas sederhana di Depok, sekelompok anak muda transgender dan non-biner duduk melingkar. Di hadapan mereka tersedia kertas kosong, laptop, dan secangkir kopi. Mereka sedang belajar menulis CV—dokumen yang bagi sebagian orang tampak sepele, tetapi bagi mereka adalah tiket menuju pengakuan di dunia kerja formal.

“Dulu saya tidak pernah berani melamar kerja di kantor,” ujar seorang peserta pelatihan. “Takut ditolak hanya karena penampilan saya. Tapi sekarang, saya mulai percaya diri.”

Inilah wajah nyata dari program Free to Be Me (F2BM) yang dijalankan oleh Perkumpulan Suara Kita antara November 2024 hingga Juni 2025, organisasi ini menorehkan capaian penting: membangun jembatan antara komunitas Ragam Gender dan Seksualitas dengan dunia kerja yang lebih inklusif.

Suasana saat pelatihan berlangsung (Foto: Suara Kita)

Data yang Bicara: 176 Suara, 176 Harapan

Suara Kita berhasil mengumpulkan 176 data valid dari individu transgender dan non-biner. Angka ini melampaui target awal 100 responden. Dari data itu, terungkap:

  • 53,2% transpuan
  • 17% trans laki-laki
  • 11,1% non-biner
  • 18,7% queer

Hampir 94% responden menyatakan membutuhkan pelatihan dasar untuk meningkatkan keterampilan kerja. Permintaan paling tinggi adalah:

  • Public speaking (123 orang)
  • Bahasa Inggris (102 orang)
  • Microsoft Office/Komputer (91 orang)
  • Penulisan laporan (76 orang)

Data ini bukan sekadar angka, melainkan peta kebutuhan nyata yang menjadi dasar strategi pemberdayaan.

FGD Penyusunan Modul (Foto: Suara Kita)

Dari Pelatihan ke Percaya Diri

Antara Mei–Juli 2025, Suara Kita menggelar lima sesi pelatihan offline di Depok, Kota Tangerang, dan Kabupaten Tangerang. Total 59 peserta hadir—melebihi target 50 orang.

Materi yang diajarkan meliputi:

  • Penulisan CV dan persiapan wawancara
  • Komunikasi publik & etika profesional
  • Branding personal dan komunitas
  • Menjadi content creator

Seorang peserta dari Warna Sehati Depok berkata, “Saya baru tahu cara menulis CV yang benar. Selama ini saya hanya menulis seadanya. Sekarang saya berani melamar kerja di perusahaan.”

Yang menarik, salah satu sesi pelatihan bahkan diprakarsai oleh Glitz Inclusive, sebuah usaha yang sebelumnya terlibat dalam kegiatan company outreach. Ini menandakan bahwa keterlibatan pengusaha bukan lagi sekadar wacana, tetapi sudah mulai nyata.

Tidak hanya bekerja dengan komunitas, Suara Kita juga aktif mendekati para pelaku usaha.

  • Nature Vet, sebuah klinik hewan, mulai menerapkan prosedur perekrutan inklusif setelah pemiliknya, Susan Hermansyah, mengikuti FGD Suara Kita.
  • Glitz Inclusive menawarkan pelatihan kewirausahaan dan konten digital bagi peserta.
  • Puluhan salon, usaha kuliner, hingga organisasi masyarakat sipil ikut terlibat dalam penyusunan panduan tempat kerja inklusif.

Hingga pertengahan 2025, tercatat 55 mitra lintas sektor ikut berkontribusi. Dari salon kecil di pinggiran kota, hingga lembaga besar seperti Komnas HAM, Komnas Perempuan, dan ILO Indonesia.

Selama enam bulan, Suara Kita memproduksi 60 konten media sosial—berupa artikel, opini, komik strip, hingga flyer. Alih-alih fokus pada video (yang terbatas oleh anggaran), mereka memilih kekuatan narasi tertulis. Konten-konten tersebut mengangkat kisah nyata, opini kritis, hingga humor ringan, dengan tema bulanan yang relevan. Hasilnya, kampanye tidak hanya menyebarkan informasi, tetapi juga membangun keterhubungan emosional dengan audiens.

Tak berhenti di situ, dalam sebuah workshop kolaboratif di Jakarta, dua sosok tampil sebagai pembicara tamu:

  • Jelita, seorang transpuan yang bekerja di media progresif Magdalene.
  • Retsu, seorang trans laki-laki yang berkarier di PLAN International.

Keduanya berbagi pengalaman bagaimana tetap profesional di dunia kerja formal tanpa harus menyembunyikan identitas. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa inklusi bukan sekadar teori, melainkan mungkin diwujudkan.

Program Free To Be Me yang dijalankan Suara Kita menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari hal sederhana: sebuah CV yang ditulis dengan percaya diri, sebuah wawancara kerja yang dijalani tanpa rasa takut, sebuah perusahaan kecil yang berani membuka pintu.

“Dulu saya merasa tidak punya tempat di dunia kerja,” kata seorang peserta. “Sekarang, saya tahu bahwa ada ruang untuk saya. Dan saya berhak ada di sana.”

Program ini juga menegaskan bahwa ekonomi inklusif bukan hanya soal angka, tetapi soal martabat manusia. (Esa)