Oleh: Aeini Nasution & Suwardi*
SuaraKita.org – Aku masih ingat hari ketika aku dan Ardi memutuskan untuk membangun keluarga. Banyak yang meragukan langkah kami. Aku, seorang transpuan, dan dia, seorang lelaki sederhana dengan hati yang lebih luas dari dunia.
“Mereka bilang hidup kita bakal sulit,” ucapku ragu kala itu.
Ardi tersenyum, menggenggam tanganku. “Biarlah, yang penting kita jalani bersama. Aku percaya sama kamu.”
Dan benar saja, hidup kami memang tidak selalu mudah. Namun, mereka lupa bahwa kami punya sesuatu yang lebih kuat dari semua keraguan itu: cinta.
Lima belas tahun sudah berlalu. Rumah sederhana di sudut gang kecil menjadi saksi suka duka kami. Dindingnya mendengar tawa Ilham, putra kami yang kini berusia tujuh tahun—hadiah terbesar dalam hidup, penguat kami di tengah badai.
Tidak semua orang memahami pilihan hidup kami. Ada yang berpaling saat kami lewat, ada pula yang melempar sindiran menyakitkan. Pernah suatu sore, aku pulang dari pasar dengan mata yang basah karena bisik-bisik di belakangku.
Begitu masuk rumah, Ardi langsung memperhatikan wajahku. “Kamu habis nangis, ya?” tanyanya pelan.
Aku mengangguk, menahan sesak. “Kadang aku lelah, Di. Rasanya dunia ini enggak adil buat kita.”
Ardi memelukku erat. “Dengar… Kamu rumahku. Kita kuat bukan karena dunia menerima kita, tapi karena kita saling genggam. Jangan pernah lupa itu.”
Ardi bekerja di sebuah gudang perusahaan multinasional. Tangannya kasar karena kerja keras, tapi hatinya selalu lembut. Sementara aku mengurus rumah sekaligus bekerja di sebuah NGO, memastikan Ilham tumbuh dalam kasih dan penerimaan. Uang kami memang tak banyak, tapi selalu ada nasi hangat, sambal buatan sendiri, dan cerita yang membuat meja makan kami penuh kehangatan.
Suatu malam, sambil makan, Ilham menatap kami.
“Mamah, Ayah… kalau teman-teman tanya kenapa keluarga kita beda, aku harus jawab apa?”
Aku menatap Ardi sejenak, lalu tersenyum pada Ilham.
“Jawab saja: keluarga kita sama seperti yang lain. Kita saling sayang, itu yang bikin kita istimewa,” kataku.
Ardi menimpali sambil mengusap rambutnya, “Iya, Nak. Yang penting kamu tahu, kamu tumbuh di rumah yang penuh cinta. Itu sudah lebih dari cukup.”
Ilham tumbuh menjadi anak yang berani mencintai tanpa syarat. Suatu hari, ia pulang membawa gambar keluarga: aku, Ardi, dan dirinya, dengan matahari besar di atas serta hati merah di tengah.
“Supaya semua orang tahu, kita saling sayang,” katanya polos sambil tersenyum bangga.
Saat itu, aku sadar—meski dunia memandang kami berbeda, Ilham melihat kami sebagai rumah terhangat dalam hidupnya.
Kami belajar bahwa hidup bukan tentang menghindari badai, melainkan menari di tengah hujan. Selama tangan Ardi menggenggamku, selama tatapan Ilham penuh bangga, aku tahu kami akan terus berdiri, apa pun yang terjadi.
Sebab keluarga bukan tentang siapa yang terlihat sempurna di mata dunia, melainkan siapa yang tetap menggenggam tanganmu saat semua orang melepaskannya. Dan dalam genggaman itulah, aku menemukan arti rumah yang sesungguhnya.
“ Kisah ini bukan hanya tentang kami, tetapi tentang semua keluarga yang berjuang melawan stigma. Bahwa cinta sejati tidak mengenal batas identitas, tidak tunduk pada pandangan sempit, dan tidak akan pernah kalah oleh kebencian. Selama kita bersama, kita akan selalu menang.”
-Aeini Nasution-
*Aeini adalah Dewan Pengurus Perkumpulan Suara Kita dan juga aktivis untuk isu Kesehatan HIV & AIDS.






