Oleh: Pudji Tursana*
SuaraKita.org – Suara tiang listrik beradu dengan batu terdengar menggaung nyaring di kejauhan. Jam tiga pagi. Angin malam bertiup dari lereng bukit-bukit, mengalir pelan ke lembah, meniupi rumah-rumah di kota, dan menyusup ke kamar melalui celah-celah di jendela. Rasa dingin di bahu membuat Tiara menegakkan punggung. Ia meregangkan tangan, menarik otot-otot lengan, punggung dan bahu yang kaku. Matanya terasa pedas, tengkuknya ngilu, dan kepalanya seolah membatu. Jemarinya masih bergerak di atas tuts laptop menyusun kata-kata yang telah berulang kali ditulis dan dihapus, ditulis kembali, dan dihapus kembali.
Keheningan malam sudah lama tidak lagi menjadi teman yang menenangkan hati. Kegelapan malam menjadi batu penjuru hitam yang mengganjal kepala. Dalam diam yang kelam itu Tiara merasakan jiwa yang riuh, berteriak minta kebebasan. Kepalanya menjelma batu yang menunjukkan jalan dalam diamnya. Butiran keringat halus melembabkan pelipis dan ujung hidungnya. Siku dan lengannya sesungguhnya telah terasa pegal. Tetapi ia bergeming, terus saja di depan laptop, mengetik.
Kata-kata yang lebih cocok. Tiara mengharuskan dirinya untuk menemukan kata-kata yang lebih dianggap pantas. Apakah memang begitu yang baik: kata-kata yang lebih mengikuti selera orang banyak? Ia sudah berusaha untuk mencari padanan kata yang lebih ramah bagi mata dan telinga orang-orang. Apalagi bagi orang-orang saat ini yang tidak mengalami, orang yang tidak tahu sama sekali. Tetapi mengapa hatinya terus berteriak? Mengapa kepalanya terus berdenyut-denyut, mempertanyakan kata-kata yang dipilihnya? Ada sesuatu yang salah. Ada sesuatu yang tidak tepat.
Tanpa sadar tangan kirinya meraih sebuah cangkir, yang serta merta diminumnya, hanya ampas yang kasar dan hambar terasa. Ah, itulah dia, hambar. Kata-kata yang dipilihnya terasa memukau namun hambar. Tiara sudah menuliskan yang perlu, namun kata-katanya bisu. Tiara memilih kata-kata yang indah namun mati, kata-kata yang indah namun kosong, kata-kata yang indah namun jauh dari kenyataan. Dan Tiara tahu. Rahimnya bersuara, halus dan lirih, memperingatkan dirinya. Tetapi batu di kepalanya semakin keras saja, memperingatkan berbagai resiko yang mungkin akan dihadapinya. Itulah, Tiara dengan malu mengakui ia takut pada yang masih mungkin itu.
Tiara sedari kecil sudah memanjat pohon, naik ke atap untuk mengganti genting yang pecah, naik tangga mendekati langit-langit untuk mengganti lampu yang mati, dan membantu apa saja pekerjaan rumah, mulai dari di dapur sampai ke garasi. Ia memarahi dan mengejar anak-anak yang memukuli kucing dan melempari anjing dengan batu. Bukan hal yang menjijikan baginya untuk menyentuh cacing tanah dan berbagai serangga di kebun. Ia tidak gentar dalam kegelapan.
Setiap hari Tiara hanya bersama Nenek. Ayah dan ibu lebih sering tenggelam dalam pekerjaan. Kakek meninggal dan dikuburkan entah di mana. Nenek sangat bersedih dan katanya sekarang hanya tinggal Tiara, dan Tiara harus lebih berani dari kakek. Tiara harus lebih berani dari kakek. Tiara harus lebih berani dari kakek. Apa artinya?
Suara adzan subuh lamat-lamat mengalun, mengembalikan Tiara kepada sisa pagi buta. Kali ini ia menyerah. Lamban dan enggan ia membereskan pekerjaannya yang belum tuntas. Pelan-pelan ia merebahkan diri, tulang punggungnya bergemeretakkan, jemari kebas, dan mata pedas. Tiara harus lebih berani, gumamnya berangsur tertidur.
Neneknya bercerita. Ia adalah Kirana. Masa mudanya adalah masa yang sangat indah. Apalagi saat itu Indonesia baru saja merdeka dua dasawarsa. Masih muda, sama mudanya dengan Kirana. Indonesia menggeliat dengan gemulai. Seperti gadis belia dengan dada ranum tegak menantang jaman, siap kerja dan mengisi kemerdekaan. Bagaikan insan jatuh cinta, setiap detik teringat kepada kekasih. Demikianlah Kirana kasmaran dengan Indonesia, dengan revolusinya, dengan gairah dinamika percaturan sosial politiknya. Kirana ambil bagian dalam kegiatan mengajar untuk memberantas buta huruf bersama dengan banyak perempuan lain. Kirana hadir dalam setiap rapat dan mendengarkan berbagai rencana bernas untuk setiap lapisan masyarakat. Air mata Kirana menitik haru setiap Sang Merah Putih dikerek ke atas tiang tinggi diiringi lagu Indonesia Raya. Darah mengalir deras di urat nadi, menggerakkan jantung dan otot, dan menggetarkan jiwa untuk berbuat apa pun juga sebaik-baiknya untuk Indonesia. Betapa indahnya menjadi perempuan Indonesia. Lihatlah segala yang akan kami lakukan untuk setiap insan puan dan anak, juga bagi para pemuda dan pemudinya. Kirana sangat berbahagia.
Kakek di mana, tanya Tiara, tak sabar.
Nenek meneruskan bercerita.
Di ujung musim kemarau, awan bergulung, mendung menggantung, dan angin tidak sehembus pun bertiup. Musim kering kerontang menyisakan debu halus, menempel di kulit yang lembap oleh keringat. Geliat berbagai gerakan revolusioner menggelenyar, mendaya ubah setiap orang untuk ambil bagian di dalam revolusi mengisi kemerdekaan. Hampir setiap hari ada saja baris berbaris berbagai organisasi sambil meneriakkan slogan dan semboyan yang mengobarkan semangat revolusi. Para guru berbaris, para petani berbaris, para puan berbaris, para dokter dan paramedis berbaris. Pemuda itu pun berbaris. Kakekmu, Sucipto.
Dia bukan yang terdepan, teriakannya pun bukan yang terdengar paling keras. Tetapi ia konsisten di baris ke tiga, paling pinggir di sisi kiri barisan. Selalu. Aku memperhatikannya sekilas saja pada sebuah hari yang terik. Ia berjalan tegap seirama barisan, meneriakkan slogan, keras dan bersemangat. Namun kulihat matanya yang teduh dan lembut memandangi setiap orang di pinggir jalan yang sedang menonton barisan. Sebagai petani yang berbaris dan meneriakkan dosa setan desa, ia tak tampak beringas sama sekali. Ia seolah berjanji ada cara lain untuk menjinakkan dosa-dosa itu. Aku terpukau. Pandangan itu bicara lebih banyak dari slogan yang diteriakkan. Ia menjanjikan Indonesia yang lebih hebat. Ia percaya kepada revolusi. Sejak sore itu, aku selalu menunggu barisan para petani dan aku selalu berdiri di sisi kiri. Betapa aku berharap pada suatu sore mata teduh itu akan bertatapan dengan mataku.
Alam revolusi memang bertaut dengan revolusi pribadi setiap orang. Demikianlah revolusi negara menjadi sangat personal saat Sucipto hadir pada rapat besar berbagai organisasi payung dari Partai Komunis Indonesia. Partai ini akan merayakan ulang tahunnya, dan sebuah perayaan besar sedang disiapkan. Sesungguhnya Kirana tak paham betul apa itu organisasi payung. Organisasi yang Kirana ikuti adalah sebuah gerakan untuk memajukan harkat dan martabat perempuan Indonesia. Perempuan Indonesia harus sejajar dengan para pemudanya. Revolusi akan timpang tanpa perempuan ambil bagian di dalamnya. Kirana sebagai siswa sekolah guru, tentu saja tak mau tertinggal oleh semangat ini. Saat teman seorganisasi mengajak ikut rapat besar organisasi payung, mengapa tidak Kirana ikut? Dan, di sanalah Sucipto dengan matanya yang teduh itu.
Kirana tak pernah melihat seorang lelaki yang begitu penuh karisma. Sucipto, ah tentu saja ia sangat belia waktu itu, tidak banyak bicara. Ia duduk jauh dari Kirana, di seberang ruangan. Pertemuan berlangsung riuh rendah, para peserta bersahut-sahutan berdebat dan menyampaikan pendapat. Seorang sekretaris partai sampai beberapa kali mengangkat tangan untuk melambatkan dinamika, supaya ia bisa mencatat pokok-pokok pembicaraan. Sucipto selalu hanya diam dan sesekali menulis, membuat catatan. Namun matanya tampak awas melihat ke segala arah, memperhatikan setiap orang yang berbicara. Sesekali ia menganggukkan kepala dan matanya menyorotkan dukungan. Kirana memperhatikan setiap pembicara yang tersendat berangsur berbicara lancar setelah mendapat dukungan anggukan kepala atau senyum bersahabat Sucipto. Kirana pun merasa diterima dalam rapat yang sangat besar itu, karena sesekali mereka bertemu pandang dan Sucipto tersenyum pada Kirana.
Menjelang sore rapat yang meriah itu selesai. Orang-orang puas dan senang. Rencana perayaan ulang tahun partai tergarap dengan baik. Organisasi payung menerima tugasnya masing-masing dan sudah sepakat akan saling mendukung untuk menampilkan yang terbaik. Saat satu persatu orang pulang, Sucipto mencegat Kirana di gerbang. Ia mengajak berkenalan dan pulang bersama, karena hari belum terlalu sore. Ia menawarkan boncengan sepedanya. Kirana tidak mudah berboncengan dengan orang baru kenal, maka mereka berjalan berdampingan saja. Dalam hati Kirana bertanya-tanya, bagaimana seorang petani bisa memiliki sepeda berko? Bagaimana bisa seorang petani bisa berbicara dan mengobrol dengan bahasa yang tertata?
Mereka berjalan bersisian dalam diam. Sesekali saling berpandangan dan tersenyum. Diam-diam Kirana mengamatinya. Tangannya halus berjemari panjang-panjang, lentur sekaligus tampak kuat, dengan tendon otot yang tegas saat ia menggenggam setang sepeda. Ia memiliki alis mata yang halus, terlalu halus untuk wajah seorang pemuda yang tidak tampan. Rahangnya tampak besar, hidung lebar dengan tulang hidung yang tegas dan tidak terlalu tinggi. Tulang pipi yang menonjol membingkai wajah yang semakin tirus akibat dagu yang panjang dan kaku. Mata yang teduh memaafkan wajah yang terkesan keras dan angkuh itu.
Sejak sore itu, mereka selalu bersama-sama. Pelan-pelan Kirana tahu bahwa Sucipto sesungguhnya adalah seorang guru di sekolah menengah. Ia masuk ke barisan tani karena baginya petani adalah jiwa Indonesia, negara besar dengan penduduknya yang banyak. Petani perlu menjadi cerdas dan kritis. Dosa setan desa juga perlu disikapi secara kritis, bukan begitu saja harus diterima. Apa bedanya petani dan perampok jika setan desa disikapi dengan perampasan tanah secara paksa. Petani bukan garong. Petani adalah kekasih Dewi Sri, menjaga lahan dan padi, menjaga warga negara dari kelaparan dan kemiskinan pangan. Kalau Kirana mengajak masyarakat untuk melek huruf, maka Sucipto mengajak masyarakat untuk melek mikir, menjadi kritis. Tidak perlu waktu lama bagi kami untuk saling merasa senasib sepenanggungan. Betapa indahnya berangan-angan memiliki sebuah keluarga revolusioner, melahirkan anak-anak yang bersemangat revolusi sejak dari degup jantung pertama dan tetesan darahnya. Kami mabuk revolusi dan mabuk cinta.
Biasanya, Kirana membereskan ruangan sisa kelas menulis dan membaca sampai benar-benar rapi dan bersih. Ada laporan singkat yang harus dituliskan dalam buku laporan kegiatan organisasi. Sucipto biasanya sudah berdiri atau duduk santai di teras, menunggu Kirana selesai dengan berbagai urusan. Namun sore itu berbeda. Sebelum kelas usai, Sucipto sudah menjemput Kirana dan dengan sedikit mendesak, meminta Kirana untuk membubarkan kelas. Sekarang atau kita akan terlambat. Kelas dibubarkan, Kirana menenangkan para ibu yang agak bingung dan meminta mereka semua untuk segera pulang. Sucipto juga mendesak dan mewanti-wanti para ibu untuk segera pulang. Sesungguhnya semua tampaknya merasa bingung. Kami terpengaruh oleh sikap Sucipto yang tergesa-gesa.
“Ada apa, Mas Cip?
“Nanti saja di rumah, Kirana.”
Mereka berboncengan dalam diam. Namun tangan Kirana yang memeluk dada Sucipto, merasakan degup jantung yang keras. Degup yang merambati jemari, kemudian merasuki detak jantung Kirana. Segera saja detak jantung mereka berdegup seirama. Sepanjang jalan tampak orang berjalan hilir mudik dengan wajah serius dan tegang, juga bergegas. Beberapa kali serombongan orang berlalu lalang, tampaknya adalah rombongan keluarga dengan barang-barang bawaan seadanya, seperti mengungsi. Suasana sisa kemarau, angin yang kering, dan udara yang panas. Keringat terasa mengalir di punggung Kirana, dan tangannya dingin berkeringat, jemarinya erat mencengkeram kemeja Sucipto
Mereka termangu di depan radio yang berulang-ulang menuturkan kabar mengerikan itu. Sebuah peristiwa berdarah terjadi di ibu kota negara. Para jenderal dibunuh. Tubuhnya disiksa, dipotong-potong, seolah hewan menyendi-nyendi. Pelakunya adalah para petinggi Partai Komunis Indonesia dan tentu saja beberapa organisasi payungnya ikut serta. Para perempuan revolusi berkumpul, menari telanjang sambil menyiksa para jenderal. Para perempuan yang biasanya kenes cergas langkas, meliar dan menari menggila, menjadikan tubuh para jenderal seolah altar persembahan.
Tidak perlu waktu lama untuk membunuh mimpi dan harapan. Angan tercabik-cabik menyakitkan. Revolusi berbunga penuh harapan berubah menjadi revolusi berdarah. Partai Komunis Indonesia dan seluruh anggotanya serta organisasi payungnya dinyatakan terlarang. Seluruh yang terkait dengannya ikut terlibat dengan peristiwa berdarah itu, bahkan yang nun jauh di sana dan yang Kirana tidak pernah membayangkan seperti apa ibu kota itu. Kirana tidak mengerti dan tidak percaya. Dia tidak merasa ikut ambil bagian melakukan pembunuhan para jenderal itu. Kenal pun tidak. Bagaimana mereka bisa dianggap ikut bersalah. Bagaimana Mas Cip, sebaik yang dikenalnya dianggap ikut membunuh?
Mereka berdua menekuri lantai, tangan saling menggenggam, terasa lengket dan dingin karena masing-masing berkeringat. Kirana tidak tahu harus apa. Ia pelan-pelan memandang Sucipto. Jemari Sucipto tanpa sadar mengelus-elus telapak tangan Kirana yang dingin. Wajahnya serius, mata yang biasanya teduh tampak kelam dan memandang ke sebuah titik tak jelas di ruang tengah. Denyutan pada pelipisnya mengisyaratkan pencarian siasat. Sucipto pelan-pelan menghembuskan nafas, menegakkan punggungnya, dan menatap Kirana.
“Kita harus pergi, Kirana. Terlalu banyak yang mengenali kita disini.”
“Harus pergi? Kenapa? Ke mana? Ibu bagaimana?”
Sucipto menekan punggung tangan Kirana, lembut, menenangkan.
“Lebih aman untuk Ibu jika kita tidak di sini.”
“Ke mana?”
“Ke pesisir di selatan, ada pamanku di sana. Kita harus menikah Kirana.”
Tidak ada basa-basi. Malam itu juga Sucipto meminang Kirana, seadanya. Tanpa upacara dan sanak keluarga. Ibu Kirana hanya bisa mengangguk, apalagi karena Sucipto menjelaskan rencana kepergiannya bersama Kirana. Keesokkan harinya mereka menikah, disaksikan Ibu Kirana dan seorang kadi, yang kebetulan bersedia membantu. Setelah itu, mereka berkemas, dan pergi. Kirana tidak tahu apakah ia akan melihat ibunya lagi.
Sepanjang jalan menuju selatan, orang-orang berbaris memeriksa para pejalan di perbatasan kota. Setiap orang diamat-amati seksama, seolah mencari wajah tertentu. Ada teriakan, saling tuding, lalu ramai-ramai mengepung seseorang. Orang itu dipukuli hingga tak bergerak lagi. Entah mati, entah sekarat, tak seorang pun hirau. Begitu berulang-ulang, seseorang di sini, seseorang di sana, di mana-mana. Ada lagi seorang perempuan diseret-seret pada rambutnya. Semua orang menistakan dia, memukulinya, dan tubuhnya yang nyaris telanjang penuh sayatan yang masih segar, luka-luka setengah mengering, dan memar-memar yang membiru akibat darah membeku. Kirana terkesiap. Perempuan itu adalah salah seorang sejawat yang bersama-sama mengajar untuk pemberantasan buta huruf. Langkah Kirana terhenti, kakinya berat, dan tubuhnya menjelma luka raksasa dibalut garam. Pedih dan perih.
“Kirana, ayo, jalan terus.” Sucipto mengenggam siku Kirana, menyentakkan lengannya, menghela Kirana untuk terus melangkah.
“Mas, dia . . . .”
“Jalan terus Kirana, nanti, nanti.”
Mereka berjalan bersama kerumunan, bersembunyi dalam keramaian, dan berlindung di rumah-rumah ibadat di malam hari. Status mereka sebagai pengantin baru meluluhkan amarah dan hati yang murka. Mereka berjalan terus, mencari kepastian pada setiap detik langkah kaki, berkejaran dengan maut yang tidak pasti bagaimana akan datang, namun seolah telah berjanji menghampiri. Semua berlalu seperti angin. Entah bagaimana Kirana jika Sucipto tak bersamanya. Langkah kaki Kirana yang kerap kali terseok dan melambat, terselamatkan oleh gandengan tangan Sucipto yang lembut sekaligus kuat. Setiap kali mereka terhenti oleh pemeriksaan, jawaban Sucipto yang teguh dan tegas menyelamatkan mereka. Begitu terus selama lima hari lamanya. Kirana seolah berjalan tanpa tahu arah. Tubuhnya mati beragan dan dirinya mati rasa.
Mereka tiba di selatan menjelang senja. Paman Sucipto adalah seorang petani garam. Rumahnya gubuk sederhana di pesisir, dikelilingi tambak garam yang luas. Senja yang temaram tidak menjanjikan kesejukkan. Angin pesisir berhembus kering dan menyisakan rasa lengket. Asin. Uap garam.
Malam itu mereka tidur di balai-balai teras yang diangkut ke ruang tengah. Esok hari ruang tengah akan disekat dinding bambu, sehingga tersedia kamar untuk Kirana dan Sucipto. Sucipto akan membantu pamannya di ladang garam.
Pesisir ini sepi. Ada beberapa petani garam lain, namun mereka bekerja jauh dari gubuk. Setiap hari Kirana hanya bersama Sucipto dan Paman. Kirana membersihkan rumah, mencuci pakaian, dan memasak. Sesekali ia sembunyi-sembunyi menulis pendek-pendek untuk menjaga ingatan. Gubuk itu pelan-pelan mulai terasa seperti rumahnya. Sesekali paman Sucipto akan ke desa terdekat untuk berbelanja. Dengan sedikit simpanan Kirana bisa minta tolong dibelikan kain belacu, benang dan jarum, dan sedikit kertas. Kirana mulai merasa tenang.
Selama tujuh bulan Kirana dan Sucipto hidup sebagai pertapa pesisir yang bertani garam. Paman tidak pernah bertanya apa pun. Seolah mengamini saja kehadiran mereka sebagai sesuatu yang telah digariskan. Tujuh bulan lamanya hidup dalam keterasingan yang tenang. Kirana bahagia dan bersyukur atas pernikahannya dengan Sucipto. Ia meyakini inilah keputusan terbaik yang pernah dibuatnya pada saat muda belia.
Kabar dari dunia luar diperoleh dari paman yang sesekali pergi ke desa untuk berbelanja. Nun jauh di sana, orang-orang masih mengejar pelaku peristiwa berdarah. Semakin lama semakin banyak. Daftar nama orang yang terlibat mengular, menunggu giliran untuk diangkut dan diamankan. Konon katanya jumlahnya ratusan dan harus dibasmi untuk bersih lingkungan, atau entah apa. Berpuluh algojo dadakan direkrut untuk membantu pelaksanaan hukuman. Hukuman berarti penyiksaan. Semakin tersiksa semakin baik.
Sungai-sungai berubah warna menjadi kemerahan. Lembah dan jurang sabar berlapang jiwa menerima tubuh-tubuh yang dibuang dan dilempar ke dalamnya. Beberapa bahkan masih hidup dan teriakan putus asa menjadi litani tak henti-henti yang menghantar tubuh mereka jatuh ke lekukan jurang yang dalam.
Para perempuan mengalami nasib yang sangat mengerikan. Masyarakat marah karena aksi mereka membunuh para jenderal. Akibatnya, setiap perempuan yang ditemukan menjadi bagian dari revolusi, menjadi bagian dari organisasi terlarang, dan ikut ambil bagian dalam barisan akan menerima pembalasan yang sangat mengerikan. Mereka ditangkap begitu saja, di jalan, di pasar, di rumah, di mana-mana. Mereka dilarang bertemu keluarga. Banyak yang terpaksa membawa oroknya yang belum disapih. Perempuan dalam keadaan berbadan dua tidak kurang-kurang. Mereka semua memenuhi tahanan khusus perempuan, berdiri atau duduk bersesakan di dalam sel-sel yang kotor. Ketakutan dan kecemasan menjadi teman sehari-hari. Secara bergiliran nasib akan memilih mereka untuk menjalani hukuman. Banyak para terhukum yang memilih berharap Sang Maut menjemput. Namun tak sedikit pula yang berhati baja dan berjuang menjaga kemanusiaannya.
Semua terhukum ini, tidak satu kali pun mereka menjalani proses pengadilan. Hukuman berjalan dengan berbagai cara hingga penyiksaan di luar pikiran manusia biasa. Paman tak mau menceritakan secara jelas pada Kirana. Namun seringkali Kirana melihat paman dan Sucipto berbisik-bisik di malam hari, saat, saat mereka mengira Kirana sudah tertidur. Saat Kirana berjalan mendekat, mereka akan terdiam. Sucipto akan memeluk Kirana dan memintanya untuk kembali beristirahat.
‘Mereka jauh, Kirana. Jangan cemas.” Selalu demikian Sucipto menenangkan Kirana.
Kirana mengangguk. Namun malam ini berbeda. Ia merasa cemas lebih dari biasanya. Naluri Kirana menggerakkan tangan ke perut, jemarinya menangkup memberi perlindungan. Kirana tidak menyadari sikap tubuhnya. Namun Sucipto terkesiap. Sebuah senyuman lebar, yang sangat jarang muncul selama di pertapaan ini, seolah menerangi ruangan yang temaram.
Sucipto mendekati Kirana, memegang bahunya dan menatap Kirana, masih dengan senyum lebar. Ganti Kirana terkesiap oleh senyuman Sucipto. Mereka masih berpandangan, seolah selama-lamanya. Sucipto mengangkat alisnya, bertanya dalam keheningan. Kirana tersipu mengangguk.
“Paman, kau akan bercucu.” Kata Sucipto dengan terbata.
Paman hanya tersenyum, mengangguk, dan mata paman berkaca-kaca.
Malam itu, Sucipto memeluk Kirana, berbicara perlahan-lahan, menjelaskan berbagai hal tentang persediaan makanan dan simpanan mereka yang tidak banyak. Sesungguhnya Kirana sudah mengantuk. Namun Sucipto terus mendesaknya untuk terjaga dan mendengarkan.
“Besok saja, Mas Cip. Ada apa kok seperti tergesa-gesa?”
“Harus sekarang Kirana. Aku takut kita terlambat.”
Kirana bangkit dari tidur, terduduk tegak. Rambut di lehernya meremang. Wajahnya pucat pasi.
“Apakah mereka mendekat, Mas? Haruskan kita pergi lagi?”
Sucipto menarik Kirana untuk berbaring kembali. Tangannya membelai punggung Kirana. Kirana menjadi tenang dan tertidur.
Kirana terbangun sendirian saja. Dari jendela langit tampak mendung putih pucat. Sesekali terdengar deru angin pesisir meniup rangka jendela dan pintu, berderak-derak. Dengan bergegas ia bangun. Ketangkasannya belum hilang meski ia telah mengandung cukup tua dan tubuhnya kurus.
Paman sedang duduk di ruang depan, tergugu, dan terisak pelan. Secarik kertas dalam genggaman tangannya. Kirana berjalan mendekat. Matanya bertanya dan seketika tubuhnya mendingin dari ujung kaki hingga kepala. Tubuhnya serta merta mengigil dan ngilu.
“Aku mencintaimu. Tinggallah bersama paman demi aku,Kirana. Jangan keluar.” Tulisan itu tegas dan jelas, dengan huruf tebal tipis. Indah.
Kirana jatuh terduduk di tanah. Tulisan tangan Sucipto serta merta memudar oleh basah air mata. Kirana mengusap-usap kertas itu, segera mengeringkannya sebelum remuk dan hancur.
Segerombolan orang mendekati rumah di pagi buta. Saat itu Sucipto dan paman baru saja selesai berwudhu. Orang yang paling depan menghadang paman dan setengah menghardik menanyakan Sucipto. Sucipto tak tinggal diam. Ia menjawab pertanyaan orang itu dan segera mengakukan dirinya. Ia mengatakan bahwa ia sendirian saja di situ. Pamannya hanya orang biasa, kurang waras, sehingga tak bisa menjawab pertanyaan. Mereka akan membawa Sucipto. Entah dari mana mereka tahu kalau Sucipto ikut dalam barisan para petani. Sucipto pamit sebentar masuk ke rumah untuk mengambil sarung dan baju ganti. Sikapnya santun dan mengesankan wibawa, sehingga gerombolan orang ini nampaknya segan. Mereka membiarkan Sucipto mengambil sesalin. Begitu saja, Sucipto hanya sempat berpelukkan dengan paman dan saling berpandangan nanar berkaca-kaca. Paman menangguk-angguk terisak, terus saja mengangguk-angguk tanpa henti. Sucipto berjalan menjauh dikelilingi para penjemputnya. Paman terisak-isak tertahan, takut membangunkan Kirana. Surat pendek itu diselipkan Sucipto pada sajadah paman.
“Lalu Nenek tidak pernah bertemu Kakek lagi? Tidak ada fotonya?”
Nenek tersenyum dan menggelengkan kepala, “Masa itu hanya wartawan dan tukang foto yang punya kamera.”
Tiara menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Kakek menyerahkan diri kepada maut karena ia menjaga lebih banyak kehidupan. Nenek mendengar dari banyak yang pernah berjumpa Kakek di penjara, atau satu sel dengannya, bahwa Kakek terkenal dengan kemampuannya untuk berdiam diri sepanjang masa hukuman. Tak sepatah kata pun terucap meski ia disiksa hingga hampir mati. Teman-teman Kakek tak mau menceritakan bagaimana ia disiksa. Namun terasakan oleh Nenek, badan yang mengilu membayangkan kakekmu. Seseorang di penjara murka dengan kebisuan kakek. Ia ditembak tepat di pelipisnya.“
Tiara merasa sesak.
“Ah, bagaimana aku bisa lebih berani dari itu?”
Dipersembahkan kepada para korban dan penyintas.
Menjelang Peringatan Tragedi 1965
25 September 2015
(Cerita pendek ini pernah dimuat di dalam buku kumpulan cerita pendek Para Penyintas Dari Pamulang Hingga Papua (2015))
Sumber: Catatan Tiara tentang Kirana dan Sucipto* – upaya hati ugahari
*Penulis adalah relawan di Perkumpulan Suara Kita dan saat ini menjadi buruh di kantor pelayanan pendidikan. Ia pernah menulis secara random/acak di blog Perempuan Berbagi yang telah punah oleh waktu dan beberapa kegiatan menulis bersama puisi dan/atau cerpen. Beberapa tulisannya bisa dibaca di diksipudji.wordpress.com dan dapat dihubungi via email: pudjitursana@gmail.com



