SuaraKita.org – Apa jadinya kalau kepemimpinan tak hanya soal strategi dan advokasi, tapi juga soal mendengarkan, merasakan, dan hadir sepenuhnya? Itulah semangat yang diusung dalam Workshop Empathic Leadership yang digelar oleh Empathic Living di Perkumpulan Suara Kita, pada 5–6 Agustus 2025.
Selama dua hari, peserta yang terdiri dari Pengurus Perkumpulan, Staff Harian, Volunteer, Anggota, dan Calon Anggota Suara Kita berkumpul untuk belajar memimpin dengan empati—bukan dengan kekuasaan, tapi dengan koneksi. Dipandu oleh Philip Yusenda, fasilitator yang dikenal karena pendekatan reflektif dan penuh kehangatan, workshop ini membuka ruang bagi siapa pun yang ingin memimpin dengan hati terbuka.

Apa yang Dipelajari?
Workshop ini mengajak peserta menyelami tiga pilar utama kepemimpinan empatik:
- Mendengarkan Diri Sendiri: Mengenali sinyal tubuh, memahami emosi, dan menggali kebutuhan terdalam. Karena sebelum bisa hadir untuk orang lain, kita perlu hadir untuk diri sendiri.
- Mendengarkan Orang Lain: Belajar menebak perasaan dan kebutuhan orang lain, serta mendengarkan tanpa menghakimi. Ini bukan sekadar komunikasi—ini koneksi.
- Menemukan Strategi Bersama: Merumuskan solusi yang saling menguatkan, bukan saling mengalahkan. Karena kepemimpinan sejati adalah tentang kebersamaan.
Salah satu momen paling seru adalah saat peserta bermain dengan The No Fault Zone, sebuah alat interaktif yang membantu kita memahami diri dan orang lain tanpa menyalahkan. Banyak yang bilang, “Ini bukan cuma permainan—ini cermin!”

Tentang Empathic Living
Empathic Living adalah gerakan yang mendorong empati sebagai keterampilan hidup. Mereka menciptakan ruang belajar yang aman, mendalam, dan penuh makna untuk membantu orang membangun hubungan yang sehat dan memimpin dengan kesadaran.
Menurut mereka, empati bukan kelembutan yang lemah—tapi kekuatan yang mengubah cara kita hidup dan bekerja.
Kutipan yang menjadi landasan workshop ini berbunyi: “Perasaanku adalah tanggung jawabku sendiri, siapapun dan apapun tak bisa mengubah perasaanku tanpa ijinku.”
Pesan ini mengajak kita untuk berani bertanggung jawab atas emosi kita, dan memimpin dengan kejujuran serta keberanian.
Meski dilakukan selama dua hari, suasana workshop terasa hangat, penuh tawa, reflektif, dan banyak momen “aha!” yang membekas. (ESA)





