Si Putih: Pahlawan Tanpa Batas Identitas

Oleh: Isti Toq’ah*

SuaraKita.org – Delapan puluh tahun kemerdekaan Indonesia adalah momentum untuk mengenang setiap jejak pengorbanan yang membentuk bangsa ini. Di antara banyak kisah-kisah heroik para pahlawan, ada satu cerita yang luput dari perhatian, tetapi menyimpan makna yang begitu dalam, seperti tentang Si Putih.

Sama seperti saya, mungkin banyak yang pertama kali mendengar kisah ini dari konten Instagram Arisdo Gonzalez. Satu dekade lalu pada 2015, Henri F. Isnaeni juga menuliskan secara mendalam tentang Si Putih di website Historia.id. Si Putih adalah sosok trans pemberani yang memberi petunjuk jalan bagi Jenderal Soedirman dan pasukannya di masa-masa paling kritis, saat tak seorang pun tidak berani mengambil risiko tersebut.

Kisah Si Putih tersebut menjadi pengingat penting bagi semua masyarakat Indonesia di momen peringatan 80 tahun Indonesia merdeka dari penjajah  bahwa masih sangat banyak pekerjaan rumah terkait kesetaraan dan keadilan. Penting juga untuk digarisbawahi bahwa perjuangan kemerdekaan dari masa sebelum 1945 hingga saat ini adalah milik kita semua, tanpa memandang latar belakang identitas. Memang, tidak jelas dituliskan dalam sejarah bahwa Si Putih itu transpuan atau translaki, tetapi jasanya dalam membantu kemerdekaan tidak perlu dipertanyakan sama sekali.

Perjalanan gerilya Jenderal Soedirman penuh dengan tantangan dan bahaya. Rombongan harus berpindah dari satu desa ke desa lain untuk menghindari kejaran pasukan Belanda. Pada satu titik, rombongan membutuhkan penunjuk jalan untuk memotong jalan Ponorogo-Trenggalek. Kemudian, Kapten Tjokropranolo, pengawal Jenderal Soedirman, mencari penduduk setempat yang berani untuk membantu. Saat itulah Si Putih, yang digambarkan “berperawakan kecil, berkulit putih, berperangai lembut tetapi gerakannya lincah,” menawarkan dirinya untuk membantu. Kisah ini menjadi sangat istimewa karena pengakuan Tjokropanolo bahwa banyak penduduk lain yang berpostur besar dan kokoh justru tidak berani seperti Si Putih, tetapi justru dialah yang maju ke depan tanpa keraguan sama sekali. Keberanian Si Putih di tengah ketakutan massal adalah cerminan semangat patriotisme sejati yang tidak mengenal batas gender, seksualitas, atau identitas sosial dan diri lainnya.

Kehadiran Si Putih di tengah rombongan gerilya juga menjadi pelajaran berharga tentang penerimaan dan inklusivitas. Mula-mula, ada kecurigaan dari kacamata Kapten Tjokropranolo. Hal ini disebabkan adanya keengganan Si Putih untuk mandi bersama rombongan yang membuat Tjokropanolo khawatir dan memerintahkan salah satu anggotanya, Mustafa, untuk mengawasi dia. Namun, akhirnya kecurigaan itu runtuh ketika Mustafa melaporkan bahwa ternyata Si Putih adalah seorang waria. Memang belum jelas identitasnya apakah transpuan atau translaki, tetapi Mustafa dan Kapten Tjokropranolo meyakininya sebagai waria karena gesture-nya seperti seorang perempuan yang maskulin. Mereka meyakini Si Putih bukan seorang perempuan tomboy. Jauh di lubuk hati yang dalam, mereka tidak mau mempertanyakan kesetiaan Si Putih karena telah terbukti.

Kapten Tjokropranolo sendiri mengakui bahwa ia tidak pernah mengira akan dituntun dan diberikan petunjuk arah oleh seorang trans, “Legalah hati saya… Pokoknya kita selamat.” Reaksi ini menunjukkan bahwa prasangka pribadi, meskipun ada, akhirnya tunduk pada realitas kontribusi yang nyata. Si Putih membuktikan bahwa nilai seseorang tidak ditentukan hanya sekadar dari identitasnya saja, melainkan juga dari keberanian, pengorbanan, ketulusan, dan peran esensial yang bisa diberikan dalam sebuah perjuangan di komunitas atau masyarakatnya.

Mengenang 80 tahun Indonesia merdeka dengan kisah Si Putih ini mengajak kita semua untuk bisa melihat sejarah dari sudut pandang yang lebih inklusif dan beragam serta berwarna. Perjuangan kemerdekaan adalah hasil kerja kolektif dari seluruh lapisan masyarakat, termasuk mereka yang sering kali terpinggirkan. Si Putih adalah simbol abadi dari keberanian yang datang dari tempat yang tidak terduga serta menjadi pengingat bahwa pahlawan bisa muncul dalam wujud apa saja atau siapa saja. Kisahnya mengajarkan kita untuk menghargai setiap individu yang berkontribusi pada kemajuan bangsa. Juga, semangat persatuan yang sesungguhnya adalah semangat yang mampu merangkul semua perbedaan.

 

*Isti berasal dari Balikpapan, Kaltim, namun kini berdomisili di sekitar Jakarta Selatan. Ia aktif di beberapa media sosial terutama instagram: @buildingpeace dan LinkedIn: Isti Toq’ah.