Oleh: Khoirul A.
SuaraKita.org – Di balik hiruk-pikuk perayaan kemerdekaan, suara mereka yang kerap dipinggirkan jarang terdengar. Salah satunya adalah Luna, transpuan berusia 41 tahun yang saat ini tinggal di Jakarta Timur. Dalam obrolan hangat bersama Suara Kita, Luna berbagi perjalanan hidupnya, yang baginya masih ‘separuh merdeka’.
Menjadi Merdeka dengan Menerima Diri Sendir
Luna mengaku sejak kecil sudah menyadari adanya perbedaan dirinya dengan anak lain, di mana ia merasa dirinya keperempuan-perempuanan dan merasa feminin.
“Cuma taunya kok gue kecewe-cewean, kok gue feminin, kok gue sissy, kok gue kemayu, dari SD, SMP, SMA merasa seperti itu.”
Meski pun Luna juga mengakui bahwa perubahan yang ada dirinya sampai menjadi Luna yang sekarang merupakan proses yang panjang dan bertahap, namun penerimaan bahwa dirinya berbeda dari anak-anak lain sudah muncul sejak kecil. Penerimaan terhadap diri sendiri ini, bagi Luna, adalah sebuah kemerdekaan tersendiri di mana ia telah merdeka menjadi diri sendiri.
“Tapi kalau dibilang merdeka yaudah dari aku SD lah, ya itu sih bener ya, aku udah nerima dari aku dari SD,” terang Luna.

Merdeka di Lingkup Keluarga
Berbeda dengan banyak transpuan lain, Luna tumbuh di keluarga yang sudah terbiasa dengan kehadiran transpuan. Luna mempunyai keluarga yang transpuan, sehingga hal ini menjadikan keluarga besarnya menerima kehadiran transpuan.
“Dan memang kebetulan lingkungan keluarga aku itu, ada saudara yang juga transpuan. Jadi mereka nggak kaget sih sebenarnya. Jadi aku punya Almarhum nenek. Nah, Almarhum nenek itu punya kakak. Nah, kakaknya Almarhum nenek aku itu transpuan.”
Selain itu, terdapat beberapa transpuan di lingkungan keluarga besar Luna yang membuat penerimaan keluarga terhadap Luna semakin besar lagi..
“Di Jawa Timur itu, di tempat tinggal keluarga besar, ada beberapa yang transpuan. Jadi mereka nggak kaget, kalau seandainya nanti punya anak-cucu transpuan.”
Merdeka di Tempat Ibadah
Dalam hal spiritualitas, Luna memilih jalan damai. Sebelum bertransisi dan mengubah penampilan fisik, ia kerap beribadah ke tempat ibadah.
“Aku lahir besar di lingkungan aku di Jakarta Timur. Kebanyakkan sih mereka, waktu aku sholat Jum’at, sholat Idul Fitri, Idul Adha, nggak masalah sih. Karena aku masih pakai sarung, masih pakai baju koko, tapi semenjak aku pakai ini, [silikon payudara di dada], aku belum pernah, belum pernah mencoba sholat di masjid. Di lingkungan aku yang lama sebelumnya itu, bahkan aku kan aku konde gitu kan, dengan alis begini, cuma kan aku belum berpayudara lah itu. itu mereka masih menerima sih.”
Akan tetapi, setelah ia mengubah penampilan fisik, Luna mengaku tidak berani datang ke tempat ibadah lagi. Ia takut bahwa hal ini akan menimbulkan polemik.
“Aku nggak berani sih, mendingan aku sholat di rumah lah, daripada sholat di masjid, mengganggu kenyamanan dan ketentraman orang di mushola atau di masjid.”
Selain kendala ibadah di tempat ibadah, Luna mengaku bahwa selama ini tidak punya kendala dengan masalah spiritualitas.
“Kalau untuk masalah agama, aku aman. Karena lebih baik aku yang waras mengalah.”

Merdeka di Lingkungan Sekitar
Ketika ditanya tentang arti kemerdekaan, Luna menyebut masih setengah hati. Menurutnya, ini bergantung dengan wilayah atau lingkungan tempat tinggalnya.
“Jadi ya, kalau dibilang, 50-50 lah. Dibilang merdeka ya merdeka, dibilang enggak ya enggak. Kalau menurut aku, karena kan di sebagian wilayah A, itu sangat-sangat welcome sama transpuan, sedangkan di wilayah B itu anti-transpuan.”
Luna mengakui bahwa ia termasuk transpuan yang beruntung, yang hidup di tengah-tengah lingkungan yang menerimanya dan tidak diskriminatif.
“Dibilang aku beruntung, ya beruntung. Aku punya tetangga baik, teman yang baik, sekitar yang baik, tidak mendiskriminasi, tidak stigma. Ya kalau aku lewat, aku disapa ‘Tante Luna’.”
Luna juga berusaha memahami, kenapa ada orang yang transphobia. Menurutnya, ini adalah hasil dari pemahaman yang sempit dan kebencian yang ditanam oleh media.
“Di mindset nya mereka, manusia itu ya cuma dua, perempuan dan laki-laki. Apalagi ditanam media yang benci LGBT, memberitakan LGBT dengan segala macam kebencian, orang tersebut jadi makin benci.”
Baginya, kemerdekaan bukan hanya soal negara bebas dari penjajah, tapi juga kebebasan setiap individu untuk hidup tanpa diskriminasi.
“Selama kita bisa cari makan, bisa bayar kontrakan, bisa beli baju, itu sudah membuat aku bahagia. Walaupun pemerintah nggak peduli, yang penting lingkungan terdekat masih support,” katanya.
Merdeka di Dunia Kerja
Luna menyadari bahwa banyak teman-teman transpuan yang tidak seberuntung dirinya, khususnya dalam lingkungan kerja. Bagi Luna, tantangan terbesar transpuan di Indonesia memang adalah mencari pekerjaan.
“Aku dari awal aku masuk kerja, 2005 itu, [masyarakat] sudah welcome. Sampai terakhir 2021, aku kerja sebagai kasir di bar itu, aku masih bisa diterima.”
Bagi Luna, terlepas apakah seseorang itu transpuan atau tidak, yang terpenting adalah etos kerja yang dimiliki.
“Tidak semua yang di Jakarta itu transphobia dengan LGBT. Buktinya aku bisa kerja. Yang penting apa? Niat kerja, loyalitas, [dan] tanggung jawab. Yang penting punya tiga ini aja. Karena aku beberapa kali kerja, dan alhamdulillah diterima.”
Meski begitu, Luna juga menyadari bahwa stigma memang tetap ada, terutama dari orang yang tidak mengenalnya. Dalam beberapa kesempatan pun, ia tetap membutuhkan bantuan temannya dalam meyakinkan pihak penerima kerja bahwa sekali pun transpuan, ia masih bisa bekerja secara profesional.
“Satu atau dua kali kerja itu, aku di-support sama teman aku, karena teman aku yang merekomendasikan aku. Dia nggak aneh kok, dia bisa kerja, dia begini, begini, begini. (8:36) Akhirnya aku diterima. Sisanya aku nyari lamaran [kerja] sendiri.”
Di zaman yang lebih canggih seperti sekarang, keberadaan platform sosial media sangat membantu transpuan dalam menyambung hidup. Menurut Luna, kehadiran platform sosial media membuat transpuan saat ini tidak terlalu bergantung pada sistem kerja lama yang cenderung kaku dan susah menerima kehadiran transpuan.
“Untungnya sekarang banyak sosmed ya, jadi mereka berkreasi. Mereka yang otaknya jalan, ‘Ah, udahlah, gua berkreasi aja di sosmed, walaupun nggak dapat kerja’. Sosmed sekarang kan bisa menghasilkan uang. Jadi ketolong sama sosmed lah ya.”
Merdeka di Catatan Administratif
Saat ditanya perihal pengalaman Luna terkait dengan sistem administrasi di Indonesia, ia pun mengeluhkan bagaimana transpuan masih sering mendapatkan panggilan yang tidak sesuai, dead naming.
“Karena kita kadang-kadang udah alis tinggi, udah menor, udah segala macam, udah baju seksi, di administrasi dipanggilnya dengan nama KTP, sebenarnya kalau aku sih, masalah nggak masalah sih, cuman cuek aja lah, bodo amat lah, gue nggak kenal sama satu instalasi ini. Tapi kadang-kadang temanku, nggak bisa, mereka tampilnya udah cantik, udah cetar membahana, dipanggilnya nama laki-laki, mereka nggak mau. Itu yang membuat mereka akhirnya mengganti identitas jadi perempuan, namanya juga ganti.”
Menurut Luna, sebenarnya proses pergantian identitas ini tidaklah sesulit yang dibayangkan. Akan tetapi, diakui bahwa perlu biaya tertentu agar prosesnya tidak dipersulit.
Merdeka Merayakan Kemerdekaan
Dalam menyambut perayaan kemerdekaan Indonesia ini, Luna pun merayakannya bersama teman-teman di Suara Kita. Menurutnya, sekali pun transpuan tidak diperhatikan oleh pemerintah, namun bukan berarti hal itu membuatnya benci pada negeri ini.
“Ya mau gimana lagi ya, dianaktirikan, tidak dianggap, jadinya ya udah, kita mau teriak, mau nangis, mau mati, pun kita, pemerintah juga nggak bakal tahu kan. Jadinya udah, nikmati, jalani, syukuri, yang penting kitanya sehat, kitanya masih bisa cari duit, kita masih bisa cari makan, kita masih bisa beli ini, beli itu, so much go on.”
Bagi Luna, paling minimum yang bisa diharapkan pada negara adalah tidak mengkriminalisasi transpuan. Ia pun juga mewanti-wanti bagi siapa saja untuk tidak berurusan dengan aparat negara karena masalah akan sangat rumit.
“Walaupun pemerintahnya nggak peduli sama kita, yang penting kita bisa beli makan, kita bayar kontrakan, kita beli baju, itu aja membuat, kalau aku pribadi, membuat aku bahagia ya. Dan jangan sampai aku berurusan dengan mereka, karena memang beberapa kasus itu, teman-teman itu ada yang nggak dianggap gitu ya, jangan sampai ngalamin berurusan dengan pasukan-pasukan coklat.”
Pesan untuk Transpuan
Meski sering merasa dianaktirikan, Luna masih menyimpan harapan. “Semoga adik-adik transpuan nanti lebih dipermudah cari kerja. Stigma mungkin nggak akan hilang sampai kiamat, tapi setidaknya jangan dipersulit,” ujarnya.
Untuk transpuan muda, Luna berpesan agar menjaga sikap dan menjauhi narkoba. “Cari duit, tetapkan diri, tabung sebagian gaji. Jaga attitude di mana pun, jangan sampai kena narkoba. Kalau mau minum sesekali oke, tapi jangan sampai ketergantungan. Karena itu yang bisa merusak masa depan,” tegasnya.
*Penulis adalah relawan jurnalis di Suara Kita. Penulis pernah berkontribusi konten di Pelangi Dharma dan di media sosial lainnya.





