80 Tahun, Sudahkah Kita Merdeka?  

Oleh: Sel*

SuaraKita.org – Mereka berjalan di trotoar yang sama. Mereka menghirup udara yang sama. Mereka selalu berusaha untuk membangun negeri yang sama. Namun, mereka justru ditindas, mereka dianiaya, mereka tidak dipedulikan, mereka dipaksa menjadi orang yang bukan diri mereka sendiri.

Sudah 80 tahun sejak perjuangan berdarah-darah para pahlawan kita untuk membebaskan negeri ini dari penjajahan. Bung Karno pernah berkata:

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”

Kita sekarang dapat melihat bangsa ini melawan mereka yang berbeda. Jika hal ini terus berlanjut, saya menjadi bingung. Bagi bangsa ini, apa sebenarnya merdeka itu?

Menurut saya, kita tidak bisa menjawabnya. Namun, kita justru harus bertanya lagi: ‘apakah kita layak?’. Apakah kita sangat ingin dicap merdeka hingga kita meninggalkan orang-orang yang dianggap berbeda? Jika iya, bukannya kemerdekaan ini adalah kemerdekaan yang palsu? Jika ‘merdeka’ berarti mendiskriminasikan mereka yang berbeda, maka kita sebenarnya hanya menghancurkan kemerdekaan kita dari dalam. Bukankah itu merupakan hal yang sangat disayangkan jika ‘inovasi’ terbesar kita bukanlah teknologi, bukanlah seni, tetapi hanya ironi?

Ironi yang dirasakan oleh mereka yang lahir tanpa bisa membentuk tubuhnya sesuai keinginan. Oleh mereka yang topengnya sudah menyatu dengan wajahnya. Oleh mereka yang dianggap penyakit yang harus diberantas. Mereka yang selalu melabeli kita sebagai: LGBT.

Mulai dari tanda pengenal yang hanya menyediakan ‘laki-laki’ dan ‘perempuan’, hingga aturan sekolah soal rok untuk wanita dan celana untuk pria’. Bagi banyak orang, ini tampak biasa saja karena semua mengikutinya, kan? Namun, bagaimana dengan mereka yang identitas gendernya berbeda? Bagaimana dengan mereka yang merasa, “ini bukan aku yang sebenarnya”? Bukankah rok dan celana hanyalah kain yang potongannya berbeda dan bisa dikenakan semua orang? Apakah ‘normal’ selalu berarti benar? Jika iya, apakah Galileo Galilei yang mengatakan bahwa Bumi mengitari matahari dan bukan sebaliknya seperti yang dipercayai mayoritas orang dahulu itu termasuk adalah jahat?

Setiap kali mereka harus mencentang kotak ‘jenis kelamin’ yang tidak pernah sesuai.

Setiap seragam yang memaksa tubuh mereka menjadi peran yang bukan miliknya.

Setiap kalimat, “kamu harus maskulin” atau “kamu harus feminin”.

Semua itu menumpuk. Bukan jadi kebanggaan, melainkan luka, kesedihan, dan disforia.

Maka dari situlah, kita harus bertanya: jika kemerdekaan kita katanya dibangun di atas gotong-royong dan persatuan, mengapa itu hanya berlaku untuk mereka yang sesuai ekspektasi? Beranikah kita wujudkan kemerdekaan itu bagi mereka yang selama ini kita hapuskan dari cerita?

Lagi-lagi, jawabannya bukan ‘ya’ atau ‘tidak. Melainkan ketakutan. Saat berhadapan dengan sesuatu yang benar-benar berbeda dari ekspektasi, kita terkejut, bahkan takut seolah melihat api membakar stabilitas yang kita pertahankan. Padahal, api yang sama juga bisa menghangatkan, memberi cahaya, dan menerangi jalan.

Kita dapat mengambil contoh Alan Turing. Beliau dihukum karena homoseksualitasnya. Padahal, beliaulah yang menyelamatkan jutaan nyawa di Perang Dunia ke-2, sekaligus memberi ilmu yang menjadi fondasi dunia komputer dan kecerdasan buatan sekarang. Jika kita mendiskriminasi mereka dan mengecap mereka sebagai penyakit, lantas mengapa kita memakai produk yang merupakan hasil kerja keras mereka? Apakah huruf ‘I’ pada NKRI berarti ‘Ironi’? Tentu tidak, bukan?

Jadi, bagi mereka yang selama ini kita jauhi: kaum LGBT, waria, nonbiner, queer. Api itu adalah keberanian untuk hidup sebagai diri sendiri. Jika kita memadamkannya, artinya kita bukan sedang menjaga stabilitas, tetapi kita sedang memadamkan kemerdekaan itu sendiri.

Mari bersama-sama, kita ciptakan Indonesia yang inklusif, Indonesia yang merdeka dalam artian sesungguhnya.

 

*Penulis berdomisili di Tangerang, sapa penulis melalui akun Instagram @_kadal_kun