SINDIKASI: Mendorong Inklusivitas dalam Dunia Kerja Kreatif

Oleh: Khoirul A*

SuaraKita.org – Didirikan pada 2017, SINDIKASI hadir sebagai serikat pekerja yang mewadahi buruh di sektor media dan industri kreatif. Di tengah tumbuhnya perhatian pemerintah terhadap sektor ini, SINDIKASI mengambil momentum dengan memperjuangkan bentuk perlindungan kolektif bagi para pekerja di bidang ini, yang tak jarang juga diisi oleh kelompok Ragam Gender dan Seksualitas. Untuk itu, Suara Kita mewawancarai Steven Handoko, Divisi Gender dan Inklusi Sosial di SINDIKASI, untuk menanyakan perihal keberpihakan atau peran serikat sebagai Ally atau sekutu untuk kelompok Ragam Gender dan Seksualitas.

Menurut Steve, SINDIKASI tak sekadar melanjutkan model serikat tradisional yang cenderung dianggap lebih maskulin dan identik dengan aksi demonstrasi jalanan. Sejak awal, SINDIKASI ingin tampil dengan warna berbeda, lebih progresif, ramah keberagaman, dan mengedepankan nilai-nilai inklusif secara jelas, khususnya terhadap kelompok minoritas ragam gender dan seksualitas.

“Dari awal, SINDIKASI memang ingin warna yang berbeda dari serikat lain,” tuturnya.

Foto Kegiatan Bootcamp Gender SINDIKASI 2025: Kita Rentan Jangan Sendirian (Sumber: blog.sindikasi.org)

Meski keberpihakan pada nilai-nilai inklusivitas sudah jelas sejak awal, dan terdapat anggota yang merupakan bagian dari kelompok Ragam Gender dan Seksualitas, Steve mengatakan Divisi Gender di serikat SINDIKASI baru muncul pada 2021, setelah adanya perombakan internal dan rekomendasi dari tim internal menyusul suatu kasus tertentu. Salah satu hasil konkret dari perubahan ini adalah penambahan komitmen anti-kekerasan seksual dalam AD/ART organisasi. Setiap anggota, baik baru maupun lama, harus menandatangani pakta integritas yang menyatakan penolakan terhadap segala bentuk kekerasan seksual.

Kultur Inklusif yang Dijaga Lewat Aturan dan Budaya Organisasi
Tidak hanya dengan pakta integritas, SINDIKASI juga berusaha mengakarkan kebijakan inklusif dengan menyusun SOP penanganan kekerasan seksual di lingkungan internal. SOP ini tidak hanya mencakup kekerasan berbasis gender, tetapi juga berbasis orientasi seksual dan ekspresi. Meskipun diakui bahwa SOP ini belum sepenuhnya sempurna, ia menjadi langkah nyata dalam melindungi kultur yang inklusif dan ramah terhadap semua pihak.

SINDIKASI juga rutin mengadakan Bootcamp Gender, yang mengundang anggota, terutama yang berlatar belakang ragam minoritas gender dan seksualitas, untuk berdiskusi dan memberi umpan balik atas kebijakan organisasi. Peserta diminta mengirim esai tentang pengalaman atau tantangan yang mereka hadapi, yang kemudian dijadikan bahan refleksi untuk menyempurnakan SOP dan kebijakan inklusi lainnya. 

Bootcamp Gender SINDIKASI 2025: Kita Rentan Jangan Sendirian (Sumber: blog.sindikasi.org)

Dalam bootcamp tersebut, SINDIKASI juga melibatkan lembaga seperti LBH untuk berbagi wawasan mengenai pendampingan hukum bagi pekerja yang berlatar belakang ragam minoritas gender dan seksualitas. Pendekatannya tidak hanya edukatif, tetapi juga aplikatif.

Steven juga menambahkan bahwa meskipun kepengurusan SINDIKASI akan berganti, kultur inklusif yang telah ditanam sejak awal, diperkuat dalam berbagai aturan, dan dijaga bersama, tidak akan serta-merta berubah. Para petinggi organisasi tetap harus mengikuti keputusan Kongres.

Kolaborasi, Perlindungan, dan Dampak Nyata
SINDIKASI sangat terbuka untuk bekerja sama dengan organisasi atau lembaga lain yang sejalan visinya. Konde.co menjadi perusahaan media pertama yang menyepakati klausul tentang inklusivitas kerja bersama SINDIKASI. Keduanya kemudian merumuskan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) yang melindungi para freelancer, termasuk klausul anti-diskriminasi berdasarkan gender dan orientasi seksual.

 “Banyak freelancer di media tidak punya perlindungan hukum yang jelas. Di Konde, kita berhasil bantu memasukkan perlindungan terhadap orientasi dan ekspresi gender dalam PKB,” jelas Steven.

SOP yang dirancang oleh SINDIKASI juga telah diadopsi oleh organisasi lain. Salah satunya bahkan akan meluncurkan SOP ini secara resmi dalam waktu dekat. Ini membuktikan bahwa SINDIKASI tak hanya aktif secara internal, tetapi juga berdampak di ranah yang lebih luas.

Membangun Jaringan, Memetakan Talenta
Keanggotaan SINDIKASI bersifat perorangan. Individu pekerja media dan industri kreatif bisa bergabung dengan serikat ini. Dalam proses pendaftaran, tersedia kolom bagi anggota untuk secara sukarela menyatakan identitas gender yang rentan mengalami diskriminasi, seperti Transpuan, Transpria, dan Nonbiner. Data ini bukan untuk kontrol, melainkan menjadi dasar untuk membangun dan memberikan dukungan yang tepat.

Menurut Steven, kelompok dengan  ragam minoritas gender dan seksualitas sangat rentan mengalami diskriminasi di tempat kerja, bahkan sejak proses pencarian kerja. Padahal, penerimaan terhadap keberadaan talenta dari kelompok ragam identitas gender justru membuat mereka lebih semangat bekerja karena berada di lingkungan yang menerima mereka. Sebaliknya, perusahaan yang bersikap diskriminatif akan kehilangan banyak peluang.

Bootcamp Gender SINDIKASI 2025: Kita Rentan Jangan Sendirian (Sumber: blog.sindikasi.org)

SINDIKASI sendiri memiliki forum komunikasi internal yang dapat sering bertukar informasi terkait lowongan kerja. Para anggotanya sendiri juga memberikan masukan terkait mana perusahaan yang punya kebijakan inklusif dan mana yang tidak atau malah diskriminatif.

“Kami punya platform komunikasi via WhatsApp, dan biasanya kalau ada lowongan kerja, kami akan bantu sampaikan. Kalau perusahaannya tidak inklusif, akan ada warning dari anggota. Kalau aman dan terbuka, akan direkomendasikan,” terang Steven.

Selain itu, jika terjadi diskriminasi terhadap pekerja ragam minoritas gender dan seksualitas, SINDIKASI siap memberikan dukungan dan advokasi. Upaya ini dilakukan dengan semangat kolektif, bukan sekadar representasi simbolik.

Menjadi Rumah Bersama yang Nyata
Bagi Steven, inklusivitas bukanlah slogan. Ia harus tertulis dan terimplementasi.

“Kalau dari awal lembaga sudah menerapkan prinsip inklusif, tentu lebih banyak talenta LGBT yang berani bergabung dan berkontribusi,” tuturnya. “Sebaliknya, jika mereka harus sembunyi-sembunyi, akan sulit bagi mereka memberi kontribusi maksimal.”

SINDIKASI adalah bukti bahwa serikat pekerja bisa berevolusi menjadi ruang yang aman, progresif, dan relevan dengan zaman. Tak hanya membela hak, tetapi juga menumbuhkan solidaritas lintas identitas. Di tengah dunia kerja yang masih sering tidak adil, khususnya bagi pekerja lepas di media dan industri kreatif, SINDIKASI hadir sebagai rumah bersama bagi mereka yang mendukung nilai-nilai inklusif dan demokratis.

Dengan demikian, nilai-nilai inklusif diperjuangkan bukan hanya dalam bentuk konten, tetapi juga dalam struktur kerja itu sendiri. Dari lingkungan kerja yang sehat, akan lahir pekerja-pekerja yang bahagia, yang dapat berkontribusi maksimal, baik bagi perusahaan tempat mereka bekerja maupun bagi dunia tempat perusahaan itu berkiprah.

 

*Penulis adalah relawan jurnalis di Suara Kita. Penulis pernah berkontribusi konten di Pelangi Dharma dan di media sosial lainnya.