Melepas Topeng di Dekatmu

Oleh: koalatanpaasmara*

SuaraKita.org – Kenapa, ya, dunia ini sibuk membagi apa yang boleh dan tidak boleh disukai berdasarkan gender? Baju lucu untuk perempuan sedangkan baju keren untuk laki-laki. Begitulah, dunia yang kutahu sejak kecil. Dunia yang membagi segalanya ke dalam dua kotak: untuk laki-laki dan untuk perempuan. Tetapi…, kalau aku merasa tidak cocok dalam pilihan tersebut, lantas aku ini apa?

Sejak kecil, aku suka banyak hal: kartun perempuan, mobil-mobilan, serta boneka lucu. Aku menyukai banyak hal tanpa memedulikan itu “untuk siapa”. Tetapi hal-hal yang kusuka sering dibatasi oleh aturan yang tidak pernah kupahami. Katanya, “Ini buat cowok. Itu buat cewek.” Aku pun mulai merasa aneh sendiri. Aku menyukai sesuatu bukan karena gendernya, tetapi karena aku suka dan membuatku bahagia. Begitulah, aku. Seseorang yang tidak bisa merasakan gender. Aku adalah agender.

Mungkin kamu sudah familiar dengan istilah cisgender atau transgender. Tetapi ada juga orang sepertiku—agender. Aku tidak merasa punya gender. Bukan karena trauma, bukan juga karena bingung. Aku hanya tidak merasakannya. Tidak ada sensasi jadi “laki-laki” atau “perempuan” di dalam diriku. Banyak orang ingin merasa maskulin atau feminin. Tetapi aku? Aku hanya ingin menjalani hidup sesuai yang kumau. Menyukai hal-hal yang kusuka, berpakaian seperti yang kumau, tanpa harus memasukkannya ke kotak gender mana pun.

Badanku laki-laki, tetapi aku suka benda-benda imut. Bajuku kebanyakan baju laki-laki, tetapi aku juga suka memakai rok dan berdandan saat menginginkannya. Dulu, semua itu rasanya tidak boleh diketahui oleh siapa pun. Rasanya dunia memaksaku sembunyi. Padahal, aku cuma ingin senang dengan hal-hal yang aku suka. Lama-lama, rasanya sepi, sunyi. Tidak ada yang paham diriku ini.

Namun, semua berubah ketika aku berteman dengan Rara.

Rara adalah temanku yang sangat aku sayangi. Dia tahu bahwa aku aromantis—tidak merasakan ketertarikan romantis—, aseksual—tidak punya ketertarikan seksual—, dan agender— tidak merasa punya gender—. Rara menerima semuanya. Kami sering pergi bersama ke event kebudayaan, pameran seni, art market, atau event anime. Bersama Rara, aku bisa fokus untuk bersenang-senang. Aku tidak perlu ragu, “Boleh nggak, ya, cowok suka gantungan kunci lucu?” atau “Boleh nggak, sih, aku yang badannya laki-laki beli boneka besar?” Bersama Rara, aku merasa lega dan bebas yang aku jarang rasakan di tempat lain.

Di tempat lain, aku merasa harus memakai “topeng”. Harus hati-hati berbicara. Harus berpura-pura tak tertarik saat lewat bagian baju cewek. Harus sembunyikan semua hal yang kusuka supaya orang tidak menjauh. Topeng yang kupakai lengket, berat, dan rasanya sesak untuk bernapas.

Namun, bersama Rara, aku bisa lepas topeng itu.

Dia tidak bertanya aku ini cowok atau cewek. Dia tidak menertawai seleraku yang suka benda imut. Bahkan, dia ikut heboh waktu aku beli gantungan kunci dan bilang, “Ihhhh lucuuuu. Beli di mana??” Kami pernah ke bazar bareng keliling lihat pernak-pernik imut dan aku merasa bebas. Bebas jadi diriku sendiri. Tidak dibatasi gender. Cuma dibatasi dompet, hehe. Baik itu memilih rok, membeli boneka, atau aksesoris lucu, tidak sekalipun Rara sinis kepadaku.

Rara mengajariku bahwa allyship itu bukan hanya tentang jadi aktivis atau turun ke jalan. Kadang, allyship adalah menjadi tempat yang bikin kita bisa bernapas lega. Tanpa topeng, tanpa sembunyi. Tempat kita boleh jujur, boleh bahagia, dan boleh jadi diri sendiri. Aku pernah takut bahwa orang bakal menjauh kalau mengetahui aku menyukai benda imut. Tetapi Rara tidak menjauh. Dia mendekat. Dia ikut merayakanku.

Lewat Rara, aku belajar banyak. Sekarang, aku ingin jadi seperti Rara untuk orang lain.

  • Kalau teman queer-ku bercerita, aku tidak langsung bertanya 1001 pertanyaan ke mereka.
  • Kalau mereka bahagia karena hal-hal kecil, aku ikut merayakan hal yang membuat mereka bahagia.
  • Aku tidak harus tahu & paham semuanya. Tetapi, aku bisa menjadi orang yang mau mendengar dan belajar.
  • Aku mungkin bukan ally yang sempurna, tetapi aku bisa hadir dengan niat dan usahaku yang terbaik.

Bagi queer yang sering merasa harus sembunyi, mempunyai satu orang yang bilang, “nggak apa-apa jadi dirimu sendiri,” bisa terasa seperti dunia terbuka dan napas jadi lega. Aku ingin jadi orang itu—tempat yang aman, hangat, dan tempat untuk bernapas tanpa topeng. Kamu pun juga bisa. Kita semua bisa jadi rumah bagi satu sama lain.

 

*penulis berdomilisi di Kota Bekasi dengan akun instagram @koalatanpaasmara rajin membuat komik aromantis bahasa indonesia.