Berjalan Bersama: Peran Allies dalam Memperjuangkan Ruang Aman untuk Ragam Gender dan Seksualitas

Oleh: Meli Agustina*

SuaraKita.org – Perjuangan kelompok Ragam Gender dan Seksualitas untuk mendapatkan ruang aman masih menghadapi berbagai tantangan di banyak negara, termasuk Indonesia. Meski begitu, peran allies atau kawan seperjuangan menjadi kekuatan penting dalam menciptakan ruang-ruang aman tersebut. Tidak hanya sebagai pendengar, allies juga hadir sebagai pendamping yang memberikan dukungan emosional, advokasi sosial, dan keberanian menghadapi stigma.

Teresa Shinta, seorang calon dokter spesialis kejiwaan, menunjukkan betapa pentingnya pertemanan yang tulus dalam mendampingi komunitas Ragam Gender dan Seksualitas dalam kisahnya. Melalui penelitiannya, Teresa justru menemukan motivasi dari semangat komunitas People Like Us Satu Hati (PLUSH) dalam memperjuangkan ruang aman di tengah masyarakat.

Teresa menyatakan bahwa anggota komunitas tersebut memiliki keunikan, kesedihan, dan kegembiraan yang patut dihargai seperti manusia lain. Alih-alih menilai keberadaan komunitas Ragam Gender dan Seksualitas sebagai masalah sosial, ia justru menemukan ketulusan hubungan yang memberi perspektif baru tentang perjuangan hidup.

Kisah ini menjadi contoh sederhana bahwa allies tidak harus berasal dari lingkungan aktivitas formal, tetapi bisa juga tumbuh dari pertemanan personal yang didasari empati. Kehadiran kawan yang bersedia mendengarkan dan memahami tanpa menghakimi dapat memberi dampak besar bagi kesehatan mental individu Ragam Gender dan Seksualitas. Temuan ini sejalan dengan riset Healthline (2021) yang menyebutkan bahwa penerimaan dari lingkungan sekitar berkontribusi signifikan dalam menurunkan risiko gangguan mental di kalangan Ragam Gender dan Seksualitas.

Cerita serupa juga datang dari Gabriella Auburn, sosok yang aktif berinteraksi dengan komunitas PLUSH. Walaupun belum menjadi anggota resmi, Gabriella merasakan ruang aman ketika berbagi cerita bersama mereka. Ia mengaku tak perlu menyesuaikan diri secara berlebihan atau menyembunyikan bagian dari dirinya saat berada di tengah komunitas tersebut.

Situasi ini membuktikan bahwa ruang aman bisa hadir lewat komunitas-komunitas kecil yang menyediakan ruang ekspresi tanpa prasangka. Pengalaman Gabriella menggambarkan peran allies sebagai pelindung ruang pribadi. Tempat bagi seseorang bisa merasa diterima sepenuhnya tanpa khawatir dikucilkan.

Di tingkat global, perjalanan panjang komunitas Ragam Gender dan Seksualitas memperjuangkan haknya tidak lepas dari peran sekutu-sekutu lintas identitas. Peristiwa Stonewall tahun 1969 di New York menjadi momentum penting dalam sejarah perjuangan hak sipil kelompok ini. Saat itu, berbagai komunitas yang rentan — mulai dari gay, transgender, aktivis kulit hitam hingga feminis — bersatu menentang tindakan represif aparat.

Tokoh seperti Marsha P. Johnson dan Sylvia Rivera menjadi contoh nyata bahwa perlawanan tak hanya dilakukan oleh kelompok mayoritas, tetapi juga oleh individu marginal yang berani bersuara. Peristiwa tersebut menjadi fondasi bagi hadirnya berbagai peringatan penting seperti International Transgender Day of Remembrance (1999) dan International Transgender Day of Visibility (2009) (Armstrong & Crage, 2006; Miceli, 2013).

Meski kemajuan telah dicapai, diskriminasi terhadap Ragam Gender dan Seksualitas masih terjadi di berbagai sektor, khususnya di lingkungan pendidikan. Riset yang dilakukan Rivera, Abreu, dan Gonzalez (2022) menemukan bahwa sekolah dan perguruan tinggi masih menjadi tempat yang rawan bagi pelajar Ragam Gender dan Seksualitas akibat budaya heteronormatif dan cisgenderisme yang kuat. Kondisi ini menciptakan tekanan psikologis yang besar dan berdampak pada kesehatan mental pelajar. Maka dari itu, kehadiran allies dalam lingkungan pendidikan penting untuk mendorong terciptanya ekosistem yang lebih inklusif dan aman. Mereka dapat menjadi pelindung sekaligus pendidik yang memperjuangkan ruang ekspresi tanpa diskriminasi di institusi pendidikan (United Nations, 2019).

Di Indonesia, meskipun ruang aman bagi komunitas Ragam Gender dan Seksualitas masih terbatas, perjuangan itu tetap hidup melalui komunitas seperti PLUSH. Komunitas ini tak hanya menjadi tempat berbagi cerita, tetapi juga wadah untuk membangun dukungan emosional antar anggota.

Para allies dapat mengambil peran penting dengan cara sederhana, seperti menjadi pendengar yang baik, menghormati identitas orang lain, hingga menolak ujaran kebencian di ruang publik. Seperti disampaikan Hillary Clinton dalam pidatonya di Jenewa tahun 2011, “It should never be a crime to be gay” (BBC, 2011). Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa nilai budaya dan agama tidak bisa dijadikan alasan untuk membenarkan diskriminasi. Dan siapapun bisa menjadi sekutu dalam perjuangan kemanusiaan ini.

 

Referensi

  • com (2024) “Pusparagam: Perjuangan dalam Temukan Ruang Aman”
  • com (2011) “US to fight discrimination against gays and lesbians abroad” https://www.bbc.com/news/world-us-canada-16062937
  • Armstrong & Crage (2006); Miceli (2013); Bronski (2019)
  • Rivera, Abreu, & Gonzalez (2022)
  • United Nations (2019)
  • com (2021)

 

*penulis adalah mahasiswa sastra yang suka menulis dan mengulik hal baru.