Search
Close this search box.

[Resensi] Sesuai Kata Hati: Kisah Perjuangan 7 Waria

Oleh : Elizabeth Budi Wibowo*

Buku berjudul Sesuai Kata Hati: Kisah Perjuangan 7 Waria merupakan karya bersama dari Hartoyo, Titiana Adinda, Prodita Sabarini, Tanti Noor Said, dan Gusti Bayu. Buku ini diterbitkan di Jakarta lewat penerbit Rahal Pustaka pada tahun 2014. Buku setebal 148 halaman ini juga telah memiliki ISBN dengan nomor 978-602-19450-2-5.

Secara garis besar, buku ini menceritakan tentang suara hati dari teman-teman Waria dalam memperjuangkan hidupnya yang terbagi menjadi sepuluh bagian. Salah satunya adalah hak mereka.

Pembahasan pertama ialah mengenai tubuh dan keinginan. Pembahasan ini dibagi lagi menjadi tiga pembahasan, yakni dilema keluarga dan agama, dihina dan dipuja, dan mengabdi untuk bangsa. 

Dilema keluarga dan agama membahas tentang teman-teman waria yang disuruh untuk berubah. Menariknya, ada pernyataan dari teman-teman waria tentang hal tersebut, yaitu “tetapi rupanya saya hanya bisa jadi heteroseksual selama tiga hari saja. Heteroseksual tiga hari, tetapi lumayanlah merasakan pernah jadi heteroseksual, daripada belum pernah sama sekali”.

Selanjutnya, pembahasan tentang merasa dihina dan dipuja yang berisi adanya penolakan, dicemooh, dan diolok-olok. “Mereka tidak berperilaku maskulin selayaknya seorang laki-laki,” pernyataan tersebut muncul dari masyarakat kepada teman-teman waria. Namun ada salah satu orang bernama Vinolia yang diterima. Keluarganya tidak keberatan dengan keberadaan waria tersebut dan dianggap bahwa hal tersebut sebagai hiburan 

Kemudian, pembahasan tentang mengabdi untuk bangsa yang berisi kisah mereka yang berniat mengabdi bagi bangsa, justru ada penolakan dan dikucilkan di tengah perjalanan. Ada juga pernyataan dari teman waria tentang hal tersebut, “Waria juga bisa mengabdi pada Bangsa, yaitu menjadi pendidik anak Bangsa”. 

Pada pembahasan yang kedua ialah mengenai tubuh menjadi dewasa yang berpura-pura, misalnya berdandan menjadi pengantin. Di tengah pekerjaan atau ekspresi, mereka sering diejek “bencong”. Ada juga yang dikomentari bahwa cara berjalan mereka tidak selayaknya laki-laki. Bahkan, ada pula yang sering mengalami kekerasan, seperti dilempar batu. Pernyataannya yang menarik adalah “Mengapa sepertinya usil sekali publik ya atas tubuh orang lain”. 

Kemudian, pembahasan yang ketiga adalah kekecewaan dan penerimaan keluarga. Teman-teman mengalami kekerasan, ditolak. Ada juga yang memberontak keberadaan mereka kemudian diusir dan kabur dari rumah.

Pembahasan keempat berisi hal terkait dengan Hasrat dan seksualitas. Di dalamnya, waria mulai sadar akan identitas gender dan orientasi seksualnya. Ada yang terlambat dalam memahami seksual, kenikmatan, dan kekerasan yang dirasakan.

Kemudian pembahasan selanjutnya adalah jatuh hati dan patah hati. Waria yang terlahir berkelamin laki-laki dan beridentitas gender perempuan tertarik secara seksual kepada laki-laki. Waria juga merasakan jatuh cinta dan mengalami patah hati. Mereka juga rentan terhadap kekerasan fisik dan psikologis dari pasangan mereka dengan istilah, ‘dipakai, lalu ditinggal’. 

Waria menganggap bahwa cinta adalah hak. Ada beberapa yang rela dipoligami dan menyatakan serta meyakinkan diri bahwa bahagia mengalami hubungan dengan pasangannya.

Selanjutnya, pembahasan mengenai merangkul masyarakat, yaitu keterbatasan di dalam ikut serta dalam hidup masyarakat. Ini menjadi hambatan teman-teman Waria. Interaksi dengan komunitas sedikit ada perbedaan dari masyarakat. 

Bila seorang waria memutuskan untuk mengekspresikan identitas seksual, maka mereka harus menerima dan sikap terhadap konsekuensinya, yaitu gunjingan dan cemoohan. Teman-teman waria juga menghindari penafsiran agama yang menganggap menyimpang dari ajaran agama. Harapannya adalah masyarakat dan pemerintah bisa menerima keadaan dan beribadahnya waria diterima dengan baik. Meski begitu, ada juga yang sudah menerima keberadaan teman-teman waria, yakni ibadah menggunakan apa yang menjadi ekspresi mereka dengan tujuan membenahi hidup. 

Situasi ini tidak menyusutkan kekukuhan mereka untuk memperjuangkan hal-hak mereka sebagai individu. Mereka memiliki kontribusi di dalam pembangunan negara. Mereka juga bertindak sebagai agen perubahan sosial.

Kisah dari teman-teman waria ini juga mengajarkan mengenai bagaimana ketidakadilan yang selama ini menimpa mereka. Yang seharusnya disadari adalah kita bangsa Indonesia terkenal dengan keramahan dan kesopanan. Kisah mereka juga menggambarkan perlakuan kejam dan diskriminasi terhadap identitas dan jati diri. Mereka justru berani mengekspresikan dirinya walaupun masih dan tetap ditolak keberadaannya. Banyak hal dan nilai positif yang didapat dari pengalaman hidup teman-teman komunitas waria. 

*Penulis adalah seorang Mahasiswa yang tengah menjalankan program magang di Suara Kita.