Search
Close this search box.

Ourvoice.or.id – Bagi kaum perempuan, Asia bisa dibilang sebagai tempat terbaik untuk meniti karier. Studi perusahaan data Preqin menunjukkan lebih banyak perempuan berpeluang menduduki posisi senior pada perusahaan-perusahaan private equity di Asia ketimbang Amerika Utara atau Eropa.

Sekitar 13% perempuan menduduki jabatan penting pada private equity di Asia pada Februari, sementara Amerika Utara dengan 10,3%, Eropa sebesar 9,9% dan belahan dunia lain sebanyak 9,8%.

Perusahaan modal ventura dan perusahaan buyout di Asia juga mengalami peningkatan jumlah pegawai senior wanita. Jika dibandingkan, kaum perempuan mewakili 11,2% eksekutif senior di perusahaan modal ventura, naik dari 9,7% pada 2012. Sementara itu, persentase eksekutif senior wanita di perusahaan buyout naik dari 6,9% pada 2012 menjadi 8,7% pada 2013.

Survei itu mencakup 1024 mitra umum di seluruh Asia termasuk Cina, Jepang, Singapura dan India. Cina menyumbang responden terbanyak, dengan 258 perusahaan yang diwawancara.

Di Cina sendiri, terdapat sejumlah wanita seperti Sally Shan, yang tahun lalu bergabung dengan HarbourVest Partners sebagai direktur pelaksana sekaligus kepala operasi di kantor Beijing. Kemudian ada juga Rebecca Xu dan Melissa Ma, para pendiri Asia Alternatives, yang mengelola aset lebih dari $3 miliar.

“Di Cina, private equity adalah industri yang relatif muda, yakni sekitar 20 tahun. Jadi pada mulanya [industri] ini diisi oleh wanita dan laki-laki…kesempatan yang menjadi faktor pemicu,” ujar Elaine Wong, mitra dan salah satu pendiri Hao Capital, yang sebelumnya bekerja di Carlyle Group di Amerika Serikat dan sekarang tengah menggalang dana bagi perusahaan miliknya di Beijing.

Sebagai perbandingan, di AS dan Eropa, tempat banyak perusahaan yang telah berdiri lebih lama, banyak jabatan tinggi yang secara tradisi diisi oleh kaum lelaki. Contohnya adalah Kohlberg Kravis Roberts & Co., yang seluruh eksekutifnya pria, termasuk dua direktur utamanya, Henry Kravis dan George Roberts. Mereka memasukkan wanita pertama sebagai direktur pelaksana pada 2009.

Pada bulan Januari, Wall Street Journal mengutip survei Rothstein Kass yang mengungkap bahwa industri investasi alternatif AS hanya memiliki sedikit eksekutif perempuan karena tak banyak posisi yang membolehkan mereka mengembangkan rekam jejak. Selain itu, motivasi untuk memasuki atau menetap industri itu juga rendah.

Dengan demikian, peluang bagi kaum perempuan di private equity Asia cenderung lebih tinggi pada perusahaan besar yang memiliki sekitar 11 hingga 20 pegawai senior. Sementara itu, terdapat penurunan dalam proporsi rata-rata perempuan pada posisi senior di perusahaan yang memiliki satu sampai lima pegawai senior hingga 8,7% tahun ini dibandingkan dengan 2012 sebesar 9,2%, demikian Preqin.

Sumber : WSJ