Inklusivitas Dunia Kerja Seni: Kembali Bekerja, Kembali Menjadi Diri

Oleh: A. Xiao Wei*

SuaraKita.org – Kembali bekerja tidak pernah sesederhana membuka laptop, menyusun jadwal, lalu kembali produktif. Ada sesuatu yang selalu ikut kembali bersama kita: tubuh, ingatan, dan identitas yang tak pernah benar-benar bisa ditinggalkan di luar ruang kerja. Bagi saya, “back to work” adalah momen yang nyaris seperti memasuki ulang sebuah ruang yang sudah saya kenal, namun dengan kesadaran baru bahwa ruang itu tidak selalu aman, tidak selalu netral, dan tidak selalu siap menerima saya seutuhnya.

Saya bekerja di dunia seni dan kebudayaan, sebuah ekosistem yang sering diasumsikan sebagai ruang paling terbuka, paling progresif, dan paling inklusif. Di atas kertas, dunia ini tampak menjanjikan: penuh wacana kebebasan berekspresi, keberagaman, dan kritik sosial. Namun dalam praktiknya, saya sering menemukan bahwa inklusivitas itu bersifat parsial; ia berhenti pada estetika, tidak sampai pada etika.

Dalam kerja-kerja saya di ranah administratif, mengelola program, menyusun komunikasi, dan memastikan segala sesuatu tampak “berjalan dengan baik”, saya sering kali berhadapan dengan isu kesetaraan gender. Namun posisi saya tidak pernah benar-benar netral. Saya berada di dalam sistem yang secara halus, tetapi konsisten, mengatur bagaimana isu-isu ini boleh muncul: sejauh mana ia dianggap “layak”, seberapa jauh ia bisa “diterima”, dan kapan ia harus dipoles agar tidak terlalu mengganggu.

Seni dan kebudayaan kerap bekerja seperti kurasi rasa aman, bukan bagi mereka yang mengalami, melainkan bagi mereka yang berkuasa menentukan batas. Ragam gender boleh hadir, selama ia tetap bisa dikemas. Seksualitas boleh dibicarakan, selama tidak terlalu mengganggu norma. Perempuan boleh ditampilkan, selama ia cukup “menginspirasi” dan tidak menuntut perubahan struktur.

Sedikit banyak saya turut andil dalam menulis proposal, merancang program, dan membuat materi komunikasi. Saya melihat bagaimana pengalaman hidup yang kompleks perlahan disederhanakan. Ia diubah menjadi “tema” yang mudah dijual, menjadi “narasi” yang aman dikonsumsi, bahkan menjadi “nilai tambah” bagi citra institusi. Ada semacam logika tak tertulis: semakin tajam sebuah pengalaman, semakin ia perlu dilunakkan; semakin politis sebuah identitas, semakin ia harus disamarkan.

Ironisnya, proses ini sering dibingkai sebagai bentuk profesionalisme. Seolah-olah mereduksi pengalaman adalah bagian dari “standar kerja”, dan mempertanyakan struktur dianggap sebagai sesuatu yang terlalu personal. Dalam logika ini, sistem patriarkis tidak pernah perlu tampil secara terang-terangan; ia cukup bekerja melalui pilihan kata, format program, dan keputusan-keputusan kecil yang tampak teknis, tetapi sesungguhnya ideologis.

Di titik ini, saya menyadari bahwa saya tidak hanya menyaksikan, tetapi juga ikut menjalankan mekanisme tersebut. Saya menjadi bagian dari mesin yang, dengan rapi dan efisien, mengubah pengalaman hidup menjadi sesuatu yang lebih mudah diterima, dan karenanya, lebih mudah dikendalikan. Kesadaran ini tidak nyaman, tetapi justru di situlah letak pentingnya: bahwa bahkan di ruang yang mengaku progresif, bias tidak hilang; ia hanya menjadi lebih halus, lebih sulit dikenali, dan sering kali lebih mudah dibenarkan.

Saya ingat beberapa momen ketika karya tentang tubuh dan seksualitas diapresiasi karena “berani” atau “eksperimental”, tetapi pada saat yang sama, percakapan implisit masih dipenuhi asumsi heteronormatif. Bahasa yang digunakan oleh rekan kerja sering kali mengabaikan kompleksitas identitas, seolah tubuh hanya menarik ketika ia menjadi objek artistik, bukan ketika ia hadir sebagai subjek yang hidup.

Di titik ini, saya mulai menyadari adanya ilusi inklusivitas dalam dunia seni. Representasi memang ada, tetapi tidak selalu diiringi distribusi kuasa. Identitas non-normatif dirayakan sejauh ia bisa dikemas secara estetis, tetapi belum tentu diterima sebagai realitas yang menuntut perubahan struktur. Ada jarak yang konstan antara “ditampilkan” dan “diakui”.

Kondisi ini memaksa saya untuk terus bernegosiasi dengan diri sendiri. Ada saat-saat di mana saya memilih untuk menahan sebagian identitas saya demi kenyamanan ruang kerja. Ada juga momen ketika saya menggunakan karya sebagai bentuk resistensi, menyisipkan pengalaman, keresahan, dan kritik ke dalam medium yang saya kuasai. Namun negosiasi ini tidak pernah mudah. Ia selalu datang dengan harga: kelelahan emosional, rasa ragu, dan pertanyaan yang berulang; apakah saya cukup aman untuk menjadi diri sendiri di sini?

Dilema antara profesionalisme dan kejujuran identitas menjadi sesuatu yang sangat nyata. Dunia kerja sering kali menuntut kita untuk “fokus pada pekerjaan”, seolah identitas adalah distraksi. Padahal, bagi banyak dari kita, identitas justru menjadi sumber utama dari cara kita bekerja, berpikir, dan mencipta. Mengabaikannya bukan hanya tidak adil, tetapi juga mereduksi kemungkinan-kemungkinan yang bisa lahir dari keberagaman itu sendiri.

Meski demikian, saya tidak sepenuhnya kehilangan harapan. Justru dari pengalaman-pengalaman ini, saya mulai membayangkan seperti apa dunia kerja yang benar-benar inklusif. Bagi saya, inklusivitas bukan sekadar menghadirkan beragam identitas dalam satu ruang, tetapi memastikan bahwa ruang tersebut aman, adil, dan memungkinkan setiap individu untuk hadir tanpa harus menyensor dirinya sendiri.

Dalam konteks seni dan kebudayaan, ini berarti lebih dari sekadar kurasi yang “beragam”. Ini berarti membangun praktik kerja yang sadar akan bahasa, relasi kuasa, dan akses. Ini berarti menciptakan ruang produksi yang tidak hanya menerima, tetapi juga melindungi. Ini berarti membuka peluang yang setara, bukan hanya untuk tampil, tetapi juga untuk menentukan arah.

Saya juga menemukan bahwa harapan tidak selalu datang dari institusi besar. Ia sering kali tumbuh dari komunitas—dari ruang-ruang kecil yang dibangun dengan kesadaran bersama, dari solidaritas antarpekerja seni yang saling menjaga. Di sanalah saya merasa bisa kembali bekerja tanpa harus meninggalkan diri saya di pintu masuk.

Akhirnya, “back to work” bagi saya bukan sekadar kembali ke rutinitas, tetapi kembali dengan kesadaran baru. Bahwa dunia kerja adalah ruang yang terus bisa dipertanyakan, dinegosiasikan, dan diubah. Bahwa menjadi profesional tidak harus berarti menjadi netral. Dan bahwa harapan akan dunia kerja yang inklusif tidak lahir dari kesempurnaan, tetapi dari keberanian untuk terus hadir sebagai diri sendiri, secara utuh.

 

 

*Penulis adalah seniman multidisiplin yang berasal dari Kalimantan Timur. Selain menggambar dan bermain piano, ia juga gemar menulis cerita pendek tentang perempuan dan seksualitas yang dituangkan ke dalam buku pertamanya berjudul Melela(ng) Buana. Karya-karyanya bisa dilihat di blog artisanjuice.my.id atau Instagram: @ayunitaxiaowei.