Oleh: Aeini Nasution
SuaraKita.org – Langit senja menggantung di atas halaman sekolah dasar. Yasin kecil duduk memeluk lutut di sudut lapangan.
“Kenapa enggak main bola sama kami?” tanya Raka, teman sekelasnya, menendang kerikil kecil.
“Aku… lebih suka main sama mereka,” Yasin menunjuk kelompok anak perempuan yang sedang bermain karet.
Raka mengangkat alis, lalu bergumam, “Dasar bencong,” sebelum berlari pergi. Kata itu menancap seperti paku di dada Yasin.
Waktu melaju ke bangku SMP. Ejekan kerap jadi menu harian. Malam-malam, Yasin menatap cermin, mencari jawaban. Kenapa aku beda? batinnya. Tapi bibirnya tetap terkunci, hanya hembusan napas yang terdengar.
Di SMA, secercah cahaya muncul. Safari, teman sebangku, kerap menemaninya mengobrol selepas jam pelajaran.
“Kadang aku merasa… bukan seperti yang mereka lihat,” bisik Yasin di sore yang lengang.
Safari menoleh, tatapannya lembut. “Aku pun begitu,” katanya singkat, seolah mengerti tanpa banyak kata.
Itu pintu kecil yang membuka keberanian. Yasin mulai aktif di Paskibra dan Pramuka, menepis bisik-bisik yang menguntit. Suatu malam di lapangan pramuka, bintang bertabur di langit.
“Aenudin…,” suara Yasin nyaris tak terdengar. “Aku suka kamu.”
Aenudin terdiam. Seminggu berlalu tanpa sapa. Yasin gelisah, hatinya campur aduk. Hingga sore berikutnya, Aenudin mendekat, menatap ragu namun tulus.
“Aku juga,” ucapnya pelan.
Hati Yasin melompat, seolah dunia hanya milik mereka berdua.
Selepas kelulusan, jalan hidup memisahkan. Yasin merantau ke Jakarta, sedangkan Aenudin kembali ke kota asal. Di Ibu Kota, Yasin menemukan lingkaran sahabat transpuan yang membuatnya merasa utuh. Pada 2008, ia mantap memilih nama barunya, yaitu “Aeini.”
Pertemuan dengan keluarga tidak semudah itu. Saat akhirnya pulang, ibunya menatap dengan mata berkaca.
“Kenapa kamu seperti ini, Sin?” suaranya bergetar.
“Aku hanya ingin jadi diri sendiri, Bu.” Aeini menjawab, menahan air mata.
Tiga tahun jarak membeku. Namun, perlahan, pesan singkat dan telepon pendek meleburkan dinding yang memisahkan.
Kini, di sebuah ruang pertemuan, Aeini berdiri tegak di hadapan puluhan orang. Mikrofon di genggaman, sorot lampu menyorot wajahnya.
“Kita semua berhak hidup sehat dan setara,” suaranya mantap. “Tak ada yang salah dengan menjadi diri sendiri!”
Setelah sesi usai, seorang peserta mendekat, mata berbinar.
“Mbak Aeini, terima kasih. Cerita Mbak memberi saya keberanian.”
Aeini tersenyum. Dalam hati ia tahu bahwa setiap luka, setiap ejekan, setiap langkah getir telah menuntunnya ke sini—seorang aktivis kesehatan, pengurus di jaringan nasional Perkumpulan Suara Kita, dan seorang transpuan yang sepenuhnya berdamai dengan dirinya sendiri.
Di momen Transgender Day of Remembrance ini, aku ingin berpesan, “Keberanian sejati bukanlah melawan orang lain, melainkan berdamai dengan siapa kita sebenarnya. Walaupun nama mungkin saja berganti, tetapi keberanian menulis kisah hidup akan selalu abadi.”
*Aeini adalah Dewan Pengurus Perkumpulan Suara Kita dan juga aktivis untuk isu Kesehatan HIV & AIDS.




