Perempuan Bersatu: Melawan Penindasan atas Tubuh di Hari Perempuan Sedunia 2026

SuaraKita.org – Jakarta, 8 Maret 2026 — Suasana Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, sejak pagi sudah dipenuhi riuh suara perempuan dari berbagai latar belakang. Lebih dari 50 organisasi feminis yang tergabung dalam Aliansi Perempuan Indonesia berkolaborasi merayakan Hari Perempuan Sedunia dengan format berbeda: panggung perempuan yang memadukan seni, diskusi, dan deklarasi politik. Tema tahun ini, “Perempuan Bersatu: Melawan Penindasan atas Tubuh Perempuan”, menjadi penegasan bahwa perayaan bukan sekadar selebrasi, melainkan konsolidasi gerakan.

Pertunjukan Tari Kembang-Kembang Kemayoran membuka acara dengan semarak, disusul komedi reflektif dari Sakdiyah Ma’ruf yang mengangkat narasi perempuan dalam panggung stand-up. Musik Ghandiee dari Surabaya menambah warna, menyanyikan pengalaman perempuan dalam nada-nada yang intim. Seni menjadi pintu masuk, namun inti acara adalah ruang diskusi yang dibagi dalam tiga babak.

Babak pertama menghadirkan kisah perempuan akar rumput. Ika Ayu dari Samsara menegaskan, “Semakin perempuan jauh dari akses kesehatan reproduksi, semakin dekat pula perempuan dengan kematian.” Suara perempuan disabilitas, transpuan, pekerja rumah tangga, hingga pekerja seks bergema, menyingkap pengekangan, stigmatisasi, dan peminggiran sosial. Echa Waode dari Arus Pelangi menuturkan dengan getir, “Kami bukanlah kriminal, apakah menjadi diri kami sendiri adalah kejahatan?”

Isu femisida juga mencuat, mengingatkan bahwa perempuan masih dibunuh hanya karena identitas gendernya. Tubuh perempuan pekerja dieksploitasi dengan jam kerja berlebih, sementara perempuan adat kehilangan tanah dan laut akibat proyek ekstraktif. Babak ini menjadi potret nyata penindasan yang dialami perempuan di berbagai lapisan.

Jika babak pertama menyingkap luka, babak kedua menegaskan daya tahan. Cerita tentang resiliensi perempuan yang menembus batas, adaptif terhadap keadaan, dan membangun solidaritas kolektif menjadi sorotan. Dialita, grup paduan suara yang menyanyikan lagu-lagu ciptaan tahanan politik 1965, menghadirkan memori sejarah sekaligus simbol keberlanjutan perlawanan. Kaimata, dengan lantang, menggunakan panggung untuk menyuarakan hak-hak perempuan dan ragam gender.

Solidaritas perempuan ditampilkan bukan sebagai konsep abstrak, melainkan praktik nyata: kerja kolektif yang mampu menentang status quo. Babak ini menegaskan bahwa perempuan tidak berjalan di tempat, melainkan terus bergerak melawan.

Puncak acara ditandai dengan deklarasi bersama. Empat poin utama disuarakan lantang:

  1. Tubuh dan hidup perempuan bukan milik negara.
  2. Kekerasan negara terhadap perempuan adalah kejahatan kemanusiaan.
  3. Tolak politik dan ekonomi pro-perang yang menghancurkan kehidupan rakyat.
  4. Desakan perubahan sistem: hentikan impunitas, sahkan RUU PPRT dan RUU Masyarakat Adat, serta hentikan proyek ekstraktif yang merampas ruang hidup perempuan adat.

Deklarasi ini bukan sekadar daftar tuntutan, melainkan seruan kolektif untuk membangun sistem dukungan berbasis komunitas yang menghormati martabat dan kebebasan tubuh.

Acara ditutup dengan tausiyah gerakan oleh Bu Pera Sopariyanti dari Swara Rahima. Ia menekankan bahwa Hari Perempuan Sedunia bukan hanya perayaan, melainkan penanda, refleksi, dan rekonstruksi kekuatan perempuan.

Hari itu, panggung perempuan di Jakarta menjadi saksi bahwa tubuh perempuan bukan objek kontrol negara, melainkan ruang hidup yang harus dihormati. IWD 2026 menegaskan: perempuan bersatu, melawan penindasan, dan menyalakan harapan akan demokrasi yang berpihak pada rakyat. (Esa)