Merawat, Menerima, dan Bersolidaritas: Cerita Bukber Suara Kita & Nobar Film A Good Child

Oleh: Iim Ibrahim

SuaraKita.org –  Kemarin (Sabtu, 28/2), suasana sekretariat Suara Kita kita terasa beda banget. Ada energi yang sangat menyentuh sekaligus bikin semangat waktu teman-teman dari Suara Kita dan Sahabat Pustaka Pelangi kumpul bareng buat agenda nonton film A Good Child (2025) yang lagi hype banget. Ruangan yang biasanya penuh sama diskusi buku, kali ini berubah jadi bioskop mini yang penuh emosi.

Film yang Menggugah: A Good Child (2025)

Begitu film dimulai, suasana langsung hening. Semua mata tertuju ke layar, mengikuti dinamika hubungan anak dan orang tua yang digambarkan dengan sangat jujur. Film garapan Wang Guoshen ini bercerita tentang Jiahao, seorang drag queen yang kembali ke rumah setelah lama terpisah dari keluarga konservatifnya. Ia harus merawat ibunya yang mengalami demensia, sambil menghadapi luka lama dan ekspektasi budaya tentang “anak yang baik.” Dalam salah satu adegan paling kuat, Jiahao menenangkan sang ibu dengan berpura-pura menjadi “anak perempuan” yang diakui ibunya—sebuah simbol bagaimana queer person sering harus bernegosiasi antara identitas diri dan tuntutan keluarga. Film ini bukan sekadar drama keluarga, tapi juga literasi visual penting tentang keberagaman gender dan seksualitas non-normatif, serta bagaimana kasih sayang bisa melampaui batas ego dan stigma.

Bukber: Momen Kekeluargaan

Pas lagi seru-serunya, kita rehat sejenak buat Buka Puasa Bersama. Momen ini bener-bener vibes-nya kekeluargaan banget; ada canda tawa sambil berbagi takjil, sejenak melepas penat sebelum lanjut nonton sampai tuntas. Setelah film selesai, kita nggak langsung pulang. Kita duduk melingkar buat sesi perkenalan supaya makin bonding. Di sinilah poin pentingnya: kita kembali menegaskan kalau Suara Kita dan Pustaka Pelangi adalah ruang aman (Safe Space) melalui sosialisasi PSEAH (Protection from Sexual Exploitation, Abuse, and Harassment). Kita pengen Kamu tahu kalau di sini, Kamu diterima sepenuhnya tanpa rasa takut akan diskriminasi.

 

Diskusi: Bakti, Identitas, dan Kesabaran

Diskusi makin dalam waktu beberapa peserta mulai sharing pengalaman pribadi mereka dalam merawat orang tua. Jujur, suasananya jadi cukup emosional. Ada pesan moral yang sangat kuat yang dibagikan sore itu: merawat orang tua yang masih ada adalah bentuk bakti yang paling tulus, meskipun mereka mungkin belum bisa menerima identitas diri kita sepenuhnya. Kita belajar kalau kasih sayang itu melampaui ego, dan sabar itu nggak ada batasnya kalau udah urusan keluarga.

Solidaritas Asia Tenggara: Fenomena SEAblings

Menariknya, semangat solidaritas yang kita rasakan sore itu juga nyambung dengan fenomena SEAblings di Asia Tenggara. Istilah ini muncul dari netizen yang saling mendukung lintas negara—dari Jakarta, Bangkok, Manila, sampai Hanoi—ketika menghadapi stereotip global dan sikap merendahkan dari luar kawasan. Walaupun biasanya negara-negara Asia Tenggara sering “berdebat” di ranah digital, pengalaman diskriminasi dari luar justru memicu rasa kebersamaan. SEAblings jadi simbol bahwa kita punya nasib bersama, dan solidaritas lintas batas bisa jadi kekuatan menghadapi stigma.

Dalam konteks queer dan ragam gender, solidaritas ini makin relevan. Komunitas Ragam Gender dan Seksualitas di Asia Tenggara menghadapi tantangan serupa: tekanan budaya, stigma sosial, dan keterbatasan ruang aman. Dengan adanya SEAblings, kita belajar bahwa dukungan lintas komunitas dan lintas negara bisa memperkuat perjuangan bersama—bahwa identitas kita valid, dan kita tidak sendirian.

Terakhir, terima kasih banyak untuk semua yang sudah menyempatkan hadir dan ikut berbagi energi positif. Spesial banget buat teman-teman yang sudah membawa makanan untuk dimakan bersama—perut kenyang, hati pun senang! Sampai ketemu di kegiatan seru berikutnya ya.