Oleh: Pudji Tursana*
SuaraKita.org – Kawan-kawan terkasih,
Apa kabar? Semoga kalian semua senantiasa dalam keadaan sehat. Saya yakin saat ini kawan-kawan sudah sangat sibuk bekerja dan berkarya di mana-mana, menjawab tantangan hidup, dan tuntutan aktualisasi diri, bahkan menjadi tulang punggung keluarga dalam berbagai cara.
Dunia berputar senantiasa, dari waktu ke waktu. Kita semua, yang adalah poros dari masing-masing kehidupan kita, sering kali terus bergerak tanpa henti, tanpa jeda. Jeritan jeda dari dalam diri sangat halus dan hampir tidak terdengar. Pun jika jeritan ini mengetuk hati dan pikiran, bahkan hingga fisik, misalnya kita mengalami demam, flu berkepanjangan, atau sekedar terus menerus lelah tanpa alasan, kita akan pikir hanya kelelahan biasa. Tiba-tiba kita kewalahan, tidak bisa beraktivitas, dan tumbang.
Kita pasti prihatin jika ada kawan kita yang sakit, apalagi jika dia tinggal sendirian tanpa dukungan keluarga. Saya yakin kawan semua sangat berpengalaman dengan upaya membangun lingkungan yang saling mendukung (supporting system) untuk menanggulangi hal-hal darurat terkait kawan kita yang sendirian.
Tapi bagaimana dengan kemampuan diri untuk bertahan jika dukungan belum tiba atau tidak selalu ada? Atau, bagaimana pencegahan yang dilakukan oleh diri kita sendiri untuk menghindar dari kelelahan dan sakit berkepanjangan karena berbagai tekanan hidup? Bagaimana kita merawat diri kita, Kawan?
Sambil gelisah, saya kasak-kusuk tanya ke kiri dan ke kanan kepada kalian semua. Ada yang hati-hati menjawab dan cukup singkat saja. Ada yang bercerita dan bahkan banyak usulan. Saya sangat memahami bahwa soal perawatan diri (self-care) ini bisa jadi bersifat sangat pribadi. Bahkan bagi beberapa kawan adalah sebuah Hak Istimewa (privilege).
“Hah?! Self-care? Mana sempat! Emangnya gue kaya raya, bisa self-care! Jangan ngadi-ngadi, Loe!”, begitu seloroh seorang kawan, dengan logat Betawi yang kental.
Di sisi lain, saya gembira bahwa banyak kawan yang sudah merawat diri sebagai bagian dari rutinitas dasar sehari-hari. Sebenarnya, apa sich yang kita semua pahami tentang perawatan diri (self-care) ini? Apa dukungan akses yang kita butuhkan bahkan untuk hal yang paling mendasar dari perawatan diri (self-care)?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online, perawatan berasal dari kata dasar “rawat” yang berarti proses, cara, atau perbuatan memelihara. Secara umum, ini merujuk pada upaya merawat atau mengobati. Perawatan diri dapat dimaknai sebagai tindakan memelihara diri sendiri agar tetap dalam kondisi baik (Google AI Overview). Beberapa kawan menjelaskan bahwa self-care adalah tindakan penuh kesadaran untuk menjaga kesehatan jiwa dan raga, jasmani dan rohani.
Perawatan diri yang sangat mendasar tentu saja adalah menjaga kebersihan diri. Tubuh yang bersih akan lebih sehat dan mampu menangkal kuman-kuman. Setiap hari kita ke luar rumah dan terpapar berbagai zat polutif yang bisa menurunkan imunitas kita. Membersihkan diri adalah sebuah cara mendasar untuk self-care, merawat diri yang paling sederhana. Kesulitan akses air bersih akan sangat mengganggu proses ini. Saya langsung teringat pada kawan-kawan kita di daerah tertentu atau di berbagai belahan dunia lain, yang sulit mengakses air bersih. Isu air bersih dapat membawa obrolan kita ke berbagai isu, bahkan sampai ke isu struktural, bagaimana negara harus hadir dalam upaya memastikan air bersih bisa diakses semua orang tanpa kecuali.
Kawan-kawan tersayang, selain dari perawatan diri paling dasar, ada berbagai perawatan diri lainnya yang menyesuaikan dengan berbagai kebutuhan dan cara hidup kita. Manusia sangat luwes dan punya banyak aspek. Kita punya berbagai kegiatan terkait minat dan bakat yang dapat mendukung kesehatan jiwa dan raga kita. Kawan-kawan bercerita bahwa ada banyak kegiatan terkait perawatan diri (self-care). Tujuan utamanya adalah untuk membuat diri kita lepas dari rasa penat, mengalami ketenangan dan kegembiraan, kelegaan, serta memperoleh kekuatan dan semangat baru untuk melanjutkan hidup. Kawan yang senang olah raga akan berolah raga: jogging, jalan kaki santai, berenang, atau bisa sampai melakukan marathon dengan serius. Berkebun, memasak, memelihara binatang peliharaan adalah kegiatan kawan-kawan yang senang di rumah. Membaca, menulis buku harian dan jurnaling, membuat karya seni pribadi juga dilakukan kawan-kawan yang merasa cukup berkegiatan santai di rumah. Hiking – naik gunung, forest bath, jalan kaki ke bentang alam, dan piknik dilakukan kawan-kawan yang sangat menggemari kegiatan luar ruangan (outdoor). Ada juga yang dengan sangat bersemangat melakukan sosialisasi dengan para sahabat secara berkala, jalan-jalan bersama ke berbagai lokasi menarik, kulineran bersama, dan berbelanja, berburu diskon. Mari waspada jika kita senang dengan kegiatan self-care yang membutuhkan modal finansial cukup besar. Jangan sampai meleset dari tujuan. Terjebak konsumerisme dan hedonisme alih-alih bersenang-senang dan memperoleh kebahagiaan.
Kawan-kawan, saya senang sekali mengetahui bahwa banyak dari kita yang sudah memiliki kebiasaan untuk merawat diri secara khusus, di luar perawatan diri mendasar. Kawan-kawan merawat diri dua sampai tiga kali seminggu dan paling sering melakukannya pada saat istirahat setelah bekerja seharian, pada sore atau malam hari. Juga ada yang merawat diri di pagi atau siang hari dan pada akhir pekan. Tidak ada waktu merawat diri yang paling benar. Waktu yang paling nyaman dan terasa pas bagi teman-teman untuk merawat diri adalah waktu yang paling cocok, sesuai kondisi kawan semua.
Sebuah hal penting yang sangat terkait dengan perawatan diri dan menjaga kesehatan mental adalah membuat batasan-batasan (boundaries). Kawan-kawan berpendapat bahwa membuat batasan-batasan adalah sebuah cara untuk menjaga diri dari hal-hal yang tidak nyaman, menganggu, dan mungkin mengancam. Batasan membantu kita untuk menghindarkan diri dari situasi yang tidak aman dan nyaman. Kita perlu saling memahami dan menghormati batasan setiap orang. Dengan demikian kita masing-masing mampu membuat jarak dari hal-hal yang tidak bisa kita ubah atau belum mampu kita terima. Membuat jarak memampukan kita untuk menjaga emosi tetap positif dan konstruktif. Contoh membuat batasan misalnya, saya tidak mau dihubungi lagi di atas pukul sepuluh malam karena saya perlu tidur cukup. Contoh lainnya adalah saya menjaga diri dari komunikasi intensif dengan orang yang tampak sangat bersemangat.
Kawan-kawan dengan sangat yakin bersepakat bahwa membuat batasan-batasan sangat diperlukan untuk menjaga kesehatan mental. Ada tambahan catatan juga bahwa batasan diperlukan secukupnya dan sewajarnya. Seiring dengan perawatan diri (self-care), membuat batasan erat kaitannya dengan kebutuhan diri untuk merasa nyaman, aman, dan utuh. Masing-masing kita memiliki kerentanan yang perlu kita peluk dan kita rawat, sehingga kita kuat melanjutkan hidup. Abaikan jika ada orang yang menganggap diri kita terlalu lebay atau berlebihan. Mungkin ada benarnya, tapi bukan kita dan mereka yang harus menyatakannya. Kita bisa melakukan konseling kepada profesional, konselor atau psikiater, jika kita merasa membutuhkan kedalaman secara objektif terkait kesehatan jiwa kita.
“Dengan membuat batasan-batasan, saya bisa menata luka,“ kata seorang kawan. Luka memang selalu menyakitkan. Luka yang dalam bisa sangat mengganggu, bahkan mematikan. Mari kita terima luka kita. Kita peluk, dan rawat luka itu dengan membuat jarak. Misalnya, membuat jarak dengan luka dengan melakukan kegiatan aman yang menjauhkan kita dari kerentanan untuk terluka lebih dalam. Membuat batasan atau jarak, melihat luka diri secara objektif bisa membantu kita untuk bergerak maju – move on, melihat peluang untuk menyembuhkan diri dan menata kehidupan yang lebih baik.
Bagaimana dengan kesedihan? Kita bisa tiba-tiba merasa sedih. Dalam proses perawatan diri (self-care), saat diri kita sedang konsentrasi dengan diri sendiri, rasa sedih bisa mendera tiba-tiba. Kawan-kawan yang rutin melakukan perawatan diri (self-care) dapat berlatih untuk selalu peka dengan berbagai perasaan dan emosi yang ditimbulkan. Kesedihan bisa pelan-pelan dicari akarnya. Reaksi kita akan temuan akar kesedihan itu sangat dapat menentukan tindakan kita untuk membuat batasan, menyembuhkan, dan memulihkan diri. Kita bisa juga mengenali pola-pola mental dan emosi kita, mana hal-hal yang bisa memicu kesedihan, dan membuka luka lama yang mungkin belum sembuh. Kebiasaan merawat diri dan kenal diri bisa membantu kita mengurai kesedihan. Harapannya adalah tindakan ini bisa membantu kita berjalan maju, memaafkan diri dan siapa saja yang menyakiti kita.
Kawan-kawan terkasih, kesadaran kawan semua untuk merawat diri (self-care) sangat bernilai bagi kita, para insan ragam gender dan seksualitas non normatif, yang dianggap marjinal dan minoritas. Ketrampilan merawat diri, peka dengan emosi diri, dan kreatif menemukan cara untuk berdialog dengan diri sendiri akan sangat membantu kita untuk menata diri dan mampu menyiasati hidup. Kita akan lebih peka dengan berbagai situasi, tidak reaktif, dan jeli, penuh pertimbangan, sehingga keamanan diri bisa lebih kita jaga. Perawatan diri (self-care) juga bisa kita lakukan dengan sederhana. Jika ada hobby bisa kita lakukan dengan dukungan finansial sesuai kebutuhan kita. Pun kebutuhan untuk ruang aman dan kreativitas menciptakan ruang aman, berkolaborasi dengan sekutu dan komunitas bisa kita siasati untuk pemenuhan kebutuhan perawatan diri secara kolektif.
Kawan-kawan tersayang, bahagia rasanya kita bisa sepenuhnya bersepakat bahwa melakukan perawatan diri (self-care) adalah sebuah cara untuk mencintai diri sendiri. Kesehatan mental adalah hal yang penting. Perawatan diri (self-care) adalah sebuah cara untuk menjaga kesehatan mental yang dapat kita upayakan secara mandiri dan berkelanjutan.
Selamat merawat diri kita semua. Semoga Kawan-kawan senantiasa berbahagia.
Salam Keberagaman,
SuKi.
25 Februari 2026
*Penulis adalah relawan di Perkumpulan Suara Kita dan saat ini menjadi buruh di kantor pelayanan pendidikan. Ia pernah menulis secara random/acak di blog Perempuan Berbagi yang telah punah oleh waktu dan beberapa kegiatan menulis bersama puisi dan/atau cerpen. Beberapa tulisannya bisa dibaca di diksipudji.wordpress.com dan dapat dihubungi via email: pudjitursana@gmail.com




