SuaraKita.org – Rapat pengurus tahunan Perkumpulan Suara Kita kembali digelar di sekretariat Depok, 16–17 Februari 2026, menghadirkan jajaran pengurus, staf harian, dan relawan. Suasana hangat terasa sejak pembukaan, ketika masing-masing peserta berbagi kabar dan harapan. Meski ada yang datang dengan rasa lelah atau kekhawatiran pribadi, semangat kolektif untuk menjaga ruang aman dan inklusif tetap menjadi benang merah sepanjang dua hari kegiatan.
Ketua sekaligus Direktur Suara Kita, Bambang Prayudi membuka rapat dengan pidato reflektif. Ia mengingatkan bahwa perjalanan organisasi selama lima tahun terakhir penuh tantangan: pandemi, tekanan sosial-politik, hingga ketidakpastian pendanaan. Namun, di tengah semua itu, Suara Kita tetap berdiri sebagai rumah bagi komunitas keragaman gender dan seksual. Dengan suara bergetar, Yudi menyampaikan keputusan penting: ia tidak akan lagi maju sebagai Ketua maupun Direktur pada periode mendatang. Baginya, regenerasi kepemimpinan adalah kunci keberlanjutan.
“Suara Kita harus lebih besar dari siapa pun yang memimpin,” ujarnya, menegaskan bahwa organisasi ini harus bertumpu pada sistem yang kokoh, bukan figur tunggal.
Komitmen terhadap ruang aman ditegaskan oleh prinsip PSEAH—perlindungan dari pelecehan, eksploitasi, dan kekerasan seksual—serta tanggung jawab bersama menciptakan ruang inklusif. Tata tertib rapat pun menekankan pentingnya kerahasiaan data internal, partisipasi aktif, dan pengambilan keputusan melalui musyawarah mufakat.
Memasuki sesi laporan program 2025, pengurus memaparkan capaian yang patut dicatat. Suara Kita berhasil menjadi mitra nasional dalam program Supporting LGBTQI Rights in Asia bersama APCOM dan Global Affairs Canada, serta menggelar lokakarya nasional yang melibatkan 38 organisasi lintas daerah. Kantor Hukum Chalma Kalpa resmi berdiri, memberikan pendampingan hukum non-diskriminatif. Program Free To Be Me dengan dukungan Irish Aid menghimpun 176 data valid transgender dan non-biner, melampaui target, sekaligus membuka ruang pelatihan kerja inklusif.
Selain itu, organisasi menguatkan kapasitas internal melalui workshop Empathic Leadership, kegiatan budaya seperti diskusi film, dan keterlibatan mahasiswa dalam riset. Fundraising mandiri juga mulai digerakkan lewat penjualan buku dan merchandise, meski sempat menghadapi diskriminasi saat membuka booth di TIM. Semua capaian ini menunjukkan daya tahan organisasi di tengah ketidakpastian politik dan pendanaan.
Selain itu, Rapat Tahunan Pengurus terakhir untuk kepengurusan Pengurus Suara Kita 2021-2026 ini juga jujur menyoroti tantangan strategis: ketergantungan pada donor asing, diskriminasi struktural dalam akses kerja, stigma dan serangan digital, lemahnya fundraising mandiri, serta kerentanan ekonomi komunitas. Meski demikian, refleksi bersama menegaskan bahwa Suara Kita mampu bertahan berkat program yang tumbuh organik dari kebutuhan komunitas, serta jejaring yang semakin luas di tingkat regional.
Hari kedua rapat dimulai dengan mereview hasil diskusi sebelumnya. Para pengurus menegaskan kembali capaian dan tantangan yang telah dibahas, lalu beralih pada pemetaan SWOT organisasi. Dalam sesi ini, Suara Kita mengidentifikasi kekuatan berupa jejaring advokasi yang semakin luas dan kapasitas internal yang mulai kokoh. Namun, kelemahan seperti ketergantungan pada donor asing dan lemahnya fundraising mandiri kembali muncul sebagai catatan penting. Diskusi juga menyoroti peluang kolaborasi lintas sektor serta ancaman berupa penyempitan ruang sipil dan serangan digital terhadap komunitas.
Selanjutnya, rapat berfokus pada analisis jejaring kemitraan. Para pengurus memetakan mitra strategis yang sudah terjalin, baik di tingkat nasional maupun regional, serta membuka ruang untuk kemungkinan kerjasama baru. Diskusi kelompok mengenai jenis pendanaan dan kerjasama menghasilkan gagasan diversifikasi sumber dana, termasuk memperkuat kontribusi anggota dan menjajaki peluang CSR. Pemetaan ini diharapkan menjadi landasan bagi strategi keberlanjutan organisasi dalam lima tahun ke depan.
Rangkaian rapat ditutup dengan sesi refleksi. Para peserta berbagi kesan dan pembelajaran dari dua hari penuh diskusi, menekankan pentingnya menjaga solidaritas dan regenerasi kepemimpinan. Rapat pengurus kali ini tidak hanya menjadi forum evaluasi, tetapi juga ruang untuk merumuskan arah strategis jangka panjang. Dengan semangat kebersamaan, Suara Kita menegaskan komitmennya untuk tetap menjadi rumah perjuangan bagi komunitas keragaman gender dan seksual, sekaligus memperkuat fondasi organisasi agar mampu bertahan di tengah ketidakpastian.
Rapat pengurus kali ini bukan sekadar evaluasi tahunan. Ia menjadi ruang refleksi mendalam tentang keberlanjutan organisasi, regenerasi kepemimpinan, dan komitmen kolektif untuk memastikan Suara Kita tetap hidup, bahkan dalam situasi yang tidak ideal. Dua hari penuh diskusi, tawa, dan kehangatan menjadi bukti bahwa Suara Kita bukan hanya organisasi, melainkan rumah perjuangan bersama.
Rapat pengurus Suara Kita diakhiri dengan malam keakraban yang menghadirkan suasana hangat dan penuh kreativitas. Setiap pengurus, staf, dan relawan menampilkan karya seni sesuai tata tertib yang telah disepakati—mulai dari musik, puisi, hingga pertunjukan sederhana yang mencerminkan kebersamaan. Momen ini menjadi ruang penting untuk melepas penat setelah dua hari diskusi intensif, sekaligus memperkuat solidaritas di antara anggota. Kehangatan malam keakraban menegaskan bahwa Suara Kita bukan hanya organisasi, melainkan rumah bersama yang tumbuh dari kebersamaan, kreativitas, dan semangat perjuangan. (Esa)









