Bambang Prayudi: Soal Tekanan, Burnout, dan Ruang Aman di Tempat Kerja

Oleh: Khoirul A.*

SuaraKita.org – Bambang Prayudi, yang akrab disapa Yudi, adalah sosok yang kini memimpin Perkumpulan Suara Kita sebagai Direktur sekaligus Ketua Pengurus periode 2021–2026. Perjalanan hidupnya memperlihatkan transformasi yang menarik: dari dunia perbankan yang penuh target dan tekanan, menuju dunia advokasi yang menuntut kepekaan, solidaritas, dan keberanian untuk menciptakan ruang aman bagi komunitas ragam gender dan seksualitas.

Yudi menempuh pendidikan ekonomi akuntansi dan menghabiskan 14 tahun bekerja sebagai auditor di sektor perbankan. Dunia itu, menurutnya, sangat rigid: aturan jelas, target ketat, dan tekanan dari atasan menjadi bagian tak terpisahkan. “Kalau di perbankan, tekanannya angka dan capaian. Ada target nasabah, ada pencapaian bulanan, dan itu mempengaruhi mentalitas pekerja,” ujarnya.

Namun, sejak bergabung dengan Suara Kita sebagai relawan pada 2011, ia menemukan ruang kerja yang berbeda. Organisasi masyarakat ini lebih lentur, lebih terbuka, dan lebih berorientasi pada manusia. Pada 2015 ia resmi menjadi pengurus, dan sejak 2021 dipercaya memimpin organisasi hingga 2026.

Tekanan Kerja: Bentuknya Berbeda, Rasanya Sama

Bambang Prayudi

Yudi menekankan bahwa tekanan di dunia kerja tidak pernah hilang, hanya berganti bentuk. Di perusahaan, tekanan datang dari angka dan target. Di organisasi masyarakat, tekanan hadir dalam bentuk pengelolaan program, evaluasi, dan tanggung jawab moral untuk menjaga keamanan identitas komunitas. “Tekanan di LSM itu berlapis,” katanya, “ada tuntutan profesional, tapi juga ada tanggung jawab menjaga identitas dan penerimaan teman-teman.”

Ia menambahkan bahwa bagi komunitas ragam gender dan seksualitas, tekanan itu lebih kompleks. Selain harus memenuhi standar kerja, mereka juga harus menghadapi kecemasan apakah identitas mereka diterima atau justru menjadi bahan candaan merendahkan. “Candaan seperti ‘kok ngondek’ kalau diulang terus, itu bikin orang tidak nyaman. Itu bagian dari lingkungan kerja yang toxic,” tegasnya.

Strategi Self-Care: Jeda, Introspeksi, dan Dukungan

Menghadapi tekanan, Yudi memilih strategi sederhana namun mendalam: memberi jeda. Ia berhenti sejenak dari pekerjaan, berdiam diri, dan melakukan introspeksi. Jika tekanan masih berat, ia berbagi dengan rekan kerja, meminta bantuan, atau membagi beban pekerjaan. “Biasanya aku introspeksi dulu, berdiam diri, tidak mengerjakan apapun. Kalau masih berat, aku ngobrol dengan rekan kerja, berbagi beban,” jelasnya.

Kini, sebagai pimpinan, ia justru berperan menciptakan ruang aman bagi staf. Ia membuka percakapan tentang kendala, tekanan, dan mendukung staf yang membutuhkan konseling ke pusat layanan psikolog eksternal. “Kalau ada teman yang bilang sedang dalam terapi atau butuh waktu untuk ke psikiater, kita berikan ruang itu,” katanya. Baginya, self-care bukan hanya urusan pribadi, melainkan tanggung jawab organisasi untuk memastikan kesejahteraan staf.

Work-Life Balance di Suara Kita

Suara Kita menerapkan pola kerja fleksibel: tiga hari di kantor (Rabu–Jumat) dan dua hari bebas bekerja dari mana saja. “Boleh di rumah, di kafe, di taman. Yang penting capaian kerja tercapai,” ujar Yudi. Selain itu, ada agenda bulanan berupa kumpul anggota yang menjadi ajang katarsis: menonton bersama, diskusi santai, hingga curhat. Hal ini menjadi cara organisasi menjaga kesejahteraan staf sekaligus solidaritas komunitas.

Yudi sadar bahwa bagi banyak orang, terutama yang berasal dari ragam gender dan seksualitas, tekanan di tempat kerja sering kali lebih berat karena identitas mereka tidak selalu diterima. Oleh karena itu, Suara Kita juga tengah membangun SOP anti-perundungan di tempat kerja sebagai pedoman resmi. “Mudah-mudahan satu dua bulan ini bisa kita jadikan pedoman,” katanya.

Ketika ditanya tentang burnout, Yudi menegaskan bahwa sumber utamanya adalah lingkungan kerja yang toxic—baik dari sistem, atasan, maupun candaan merendahkan identitas. Ia menyarankan strategi mengambil jeda, cuti, atau bahkan mencari alternatif pekerjaan lain bila situasi tidak lagi sehat. “Sayang sekali kalau seumur hidup mesti menderita karena pekerjaan,” ujarnya. Baginya, keberanian untuk mencari ruang kerja yang lebih baik adalah bagian dari self-care.

Melalui wawancara ini, Yudi mengatakan bahwa self-care bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan mendasar di ruang kerja. Suara Kita berupaya membangun sistem kerja yang lebih manusiawi, dengan fleksibilitas, dukungan psikologis, dan solidaritas komunitas. Perspektif Yudi menunjukkan bahwa advokasi bukan hanya soal isu publik, tetapi juga soal merawat kesejahteraan internal, memastikan bahwa orang-orang yang bekerja di dalamnya tetap sehat, aman, dan berdaya.

Lebih jauh, kisah Yudi mengingatkan bahwa kesehatan mental di ruang kerja adalah bagian dari perjuangan sosial. Ia menegaskan bahwa organisasi yang peduli pada kesejahteraan staf bukan hanya menciptakan produktivitas, tetapi juga membangun solidaritas yang lebih kuat. Dalam konteks komunitas ragam gender dan seksualitas, self-care menjadi bentuk perlawanan terhadap stigma, candaan merendahkan, dan lingkungan kerja yang tidak ramah. Dengan menciptakan ruang aman, Suara Kita tidak hanya mendukung stafnya, tetapi juga memberi teladan bagi organisasi lain: bahwa merawat kesehatan mental adalah bagian dari advokasi.

 

*Penulis adalah relawan jurnalis di Suara Kita. Penulis pernah berkontribusi konten di Pelangi Dharma dan di media sosial lainnya.