Apa itu Self-Care dan Collective Care? Yuk, Tanya Sylvia Adriana!

Oleh: Khoirul A.*

SuaraKita.org – Di sebuah ruang percakapan yang hangat, Kak Sylvia Adriana duduk dan berbagi kisahnya. Suaranya tenang, namun setiap kata membawa bobot pengalaman panjang mendampingi komunitas yang sering kali dipinggirkan. Ia bukan hanya seorang psikolog, caregiver dan aktivis; ia adalah saksi hidup dari bagaimana stigma bisa melukai lebih dalam daripada kondisi kesehatannya itu sendiri, dan bagaimana merawat diri serta merawat sesama menjadi strategi bertahan yang paling radikal.

Awal Perjalanan: Dari Pendidikan ke Lintas Isu

Sylvia memulai langkahnya di dunia pendidikan sekitar tahun 2010. Namun, ia segera menyadari bahwa pendidikan tidak pernah berdiri sendiri. Di balik ruang kelas, ada anak-anak dengan kesehatan mental yang rapuh, orang tua dengan beban sosial, dan keberagaman yang sering diabaikan. Dari sana, jalannya melebar: ia menjadi konsultan program, penyusun kebijakan, pendamping komunitas, bahkan jurubahasa tulis bagi disabilitas Tuli-Buta. Semua peran itu dijalani dengan satu tujuan: membuka akses yang inklusif.

“Tidak ada satu isu yang lebih berat dari yang lain,” ujarnya. “Setiap orang membawa kompleksitas dan kerentanannya sendiri. Semua butuh empati dan pendekatan yang setara.”

Self-Care: Lebih dari Sekadar Tren

Di era media sosial, self-care sering dipersepsikan sebagai aktivitas ringan—me time, spa, atau liburan singkat. Namun bagi Sylvia, maknanya jauh lebih dalam. “Self-care adalah praktik sadar untuk menjaga diri agar tetap mampu menjalani peran dengan bermakna,” katanya.

Bagi kelompok rentan, self-care adalah bentuk resistensi. Seorang dengan HIV yang disiplin minum ARV dan tetap merencanakan masa depan sedang melawan narasi bahwa hidupnya sudah berakhir. Seorang dengan disabilitas psikososial yang mengakses terapi sedang menolak label yang merendahkan martabat.

Sylvia menekankan: “Virusnya yang seharusnya dilawan, bukan manusianya.”

Lebih dari itu, sering kali perhatian hanya tertuju pada mereka yang didampingi. Padahal, pendamping pun bisa kelelahan. Compassion fatigue, trauma sekunder, dan burnout adalah kenyataan sehari-hari.

Di sinilah collective care hadir. Supervisi rutin, ruang untuk check-in emosional, pembagian beban kerja yang adil, dan pengingat tentang batasan sehat menjadi penopang. “Self-care tanpa collective care akan rapuh. Collective care tanpa self-care akan timpang. Keduanya saling menopang,” tegas Sylvia.

Menghadapi Tuduhan Egois

Dalam budaya yang memuliakan pengorbanan, menjaga diri sering dianggap egois. Mengambil cuti dipandang kurang komitmen, tidak membalas pesan di luar jam kerja dianggap tidak solid.

Sylvia menolak pandangan itu: “Boundaries bukan tembok untuk menjauh dari orang lain. Ia adalah garis yang membantu kita memahami di mana tanggung jawab kita dimulai dan berakhir.”

Ia juga mengingatkan tentang pola trauma seperti fawning response—selalu menyenangkan orang lain demi keamanan relasi—dan overcompensation—merasa harus selalu kuat. Kedua pola ini bisa membuat seseorang tampak berdedikasi, padahal sedang mengorbankan dirinya.

Collective Care: Realitas di Lapangan

Sylvia pernah mendampingi buruh perempuan dengan beban kerja berat, tekanan ekonomi, dan pengalaman kekerasan. Dalam kondisi seperti itu, berbicara tentang self-care individual terasa tidak realistis.

Yang menjadi kekuatan mereka justru ruang kolektif: saling mendengar, saling menguatkan, saling menindaklanjuti kasus. “Mereka bertahan bukan karena masing-masing punya waktu untuk merawat diri, tetapi karena tidak merasa sendirian,” kata Sylvia.

Di akhir percakapan, Sylvia menyampaikan pesan yang menggema: “Self-care dan collective care bukan sekadar istilah populer. Keduanya adalah strategi bertahan hidup di tengah stigma dan sistem yang sering tidak adil. Merawat diri bukan tindakan egois. Merawat satu sama lain bukan sekadar empati. Keduanya adalah upaya mempertahankan ruang aman agar setiap orang tidak merasa sendirian.”

Di dunia yang mudah menghakimi, merawat adalah tindakan paling radikal. Bukan hanya merawat diri, tetapi juga merawat kemanusiaan.

 

*Penulis adalah relawan jurnalis di Suara Kita. Penulis pernah berkontribusi konten di Pelangi Dharma dan di media sosial lainnya.