Oleh: Isti Toq’ah*
SuaraKita.org – Aroma kopi tubruk dan buku lama memenuhi ruangan kecil di sudut kota itu. Di pintu depan, sebuah stiker kecil bertuliskan “Ruang Teduh” menjadi penanda bahwa di dalam sana, siapa pun bisa menjadi diri mereka sendiri tanpa perlu menoleh ke belakang bahu hanya karena rasa takut.
Biru duduk melingkar bersama lima temannya. Di atas meja, bukan hanya ada secangkir kopi, tetapi juga beberapa ponsel yang sengaja diletakkan dalam kondisi airplane mode dengan posisi dibalik, layar menelungkup ke bawah.
“Privasi adalah bentuk kasih sayang,” kata Biru pelan, membuka diskusi malam itu. “Di zaman sekarang, menjaga data diri kita bukan cuma soal teknis, tapi soal kita bisa menjaga satu sama lain loh.”
Kemudian mereka lanjut berbincang tentang bagaimana dunia digital telah berubah. AI atau kecerdasan buatan kini ada di mana-mana. AI itu bagai dua sisi koin. Di satu sisi, AI membantu mereka menemukan komunitas, informasi yang menguatkan, dan seni yang mewakili perasaan mereka. Namun, di sisi lain, ada risiko yang nyata.
“Kalian sadar nggak sih?” tanya Nila, yang sudah lama mendalami dunia IT. “Algoritma itu sering bias. Kadang, konten-konten yang kita buat untuk mengedukasi justru dianggap pelanggaran oleh automatic system, sementara komentar buzzer yang isinya kebencian malah dibiarkan karena dianggap meningkatkan engagement.”
Biru mengangguk. “Makanya kita nggak bisa 100% bergantung sama platform gede. Kita harus paham juga bahwa AI itu belajar dari data yang ada, dari data yang kita kasih. Sayangnya, dunia di luar sana masih penuh dengan banyak prasangka. Kalau kita terlalu terbuka sama data pribadi kita di ruang yang nggak encrypted, AI bisa nandain kita dengan cara yang kita nggak pengen.”
Suasana semakin tegang dan serius, ditambah lagi dengan kebulan asap cangkir kedua americano yang baru saja dipesan Nila. Kini mereka mulai membahas beberapa perubahan hukum di negeri ini, termasuk peresmian KUHP yang baru, namun dengan diskriminasi yang sama sekali tidak bisa disebut baru. Mereka tahu dan paham betul bahwa ada pasal-pasal yang bisa menjadi pisau bermata dua bagi komunitas queer, terutama terkait privasi dan ranah privat.
“Kita nggak perlu takut, bahkan sampai kita mutusin berenti gerak,” kata Biru yang sedang berusaha menenangkan teman-temannya dengan dahi mengerut. “Tapi ingat ya, kita harus lebih cerdik. Keamanan digital itulah perisai atau shield kita. Mulai sekarang kita perlu make sure kalau aplikasi, terutama messaging app yang kita pakai sudah end-to-end encryption. Kita jangan sampai sembarangan bagiin real-time location atau identitas kita di platform publik yang luas tanpa batas, kayak rimba gelap atau laut dalam yang kita nggak tahu maps-nya.”
“Terus, gini ya, anggap aja kita tuh ngunci pintu sama jendela rumah kita. Orang yang milih buat ngunci pintu sama jendela rumahnya itu bukan jahat kan? Tapi malah karena dia tuh lagi jagain apa dan siapa yang lagi ada di dalam keles,” lanjut Biru dengan bersemangat.
Malu-malu, Jingga yang merupakan anggota baru pelan-pelan ikut bersuara, “Terus, gimana caranya supaya kita tetap bisa berkarya atau at least cari inspirasi dengan aman dan nyaman?”
Biru tersenyum hangat. “Sip donk. Pastinya kita harus terus berkarya yes. Terus cerita yes. Tapi… yang tadi aku bilang tentang shield atau perisai. Juga bangun fortress atau benteng buat perkuat pintu dan jendela rumah kalian. Coba pakai VPN deh kalau diperluin. Juga jangan lupa rajin-rajin aktifin two-factor authentication. Terakhir, pastinya selalu perkuat komunitas kita supaya terus bisa saling jaga yes.”
Bagi Biru, ruang aman bukan hanya sebuah ruangan fisik dengan empat tembok dan sebuah atap. Baginya dan teman-temannya, ruang aman adalah sebuah support group yang hadir di ruang nyata dan maya. Saat di ruang maya, chat mereka diatur agar terhapus secara otomatis setelah beberapa waktu tertentu. Ruang aman juga berarti saling mengingatkan untuk menyensor wajah teman saat mengunggah foto ke media sosial jika ada teman yang tidak memberikan consent untuk diposting. Ruang aman adalah kesadaran bahwa identitas kita adalah milik kita, bukan milik algoritma.
Malam pun semakin larut. Sebelum pulang untuk mengejar kereta dan bus terakhir, mereka saling berpelukan hangat. Di luar sana sudah menunggu lampu-lampu kota yang berpijar bagaikan bintang-bintang bertaburan di daratan. Lampu-lampu itu juga bagaikan kilatan dari jutaan, bahkan miliaran data, atau entah berapa, mungkin infinite, yang berterbangan di udara. Namun malam itu, Biru, Nila, Jingga, dan semua teman-temannya yang hadir di Ruang Teduh pulang dengan perasaan lebih tenang. Mereka tahu bahwa di tengah dunia yang penuh dengan coding dan algoritma, mereka tetap memiliki satu sama lain, dan mereka tahu bagaimana cara saling menjaga keluarga yang mereka pilih di komunitas yang menjadi rumah mereka bersama.
*Isti berasal dari Balikpapan, Kaltim, namun kini berdomisili di sekitar Jakarta Selatan. Ia aktif di beberapa media sosial terutama Instagram: @buildingpeace



