Search
Close this search box.

SEPENGGAL WAKTU BERSAMA JENG NITA

Oleh : Okty Budiati*

Suarakita.org- Sore itu, jelang waktu magrib, seperti biasa, seorang waria berpakaian santai, cukup kaos dan celana selutut dengan tas terslempang di pundaknya melewati area patung GOR Senen, Jakarta Pusat, sedang melangkahkan kakinya ke warung pojok yang telah menjadi tempatnya bersantai. Tak nampak istimewa dalam penampilannya, semua seakan wajar kecuali saat dia berbicara. Waria itu bernama Nita. Saya biasa memanggilnya: Jeng Nita.

 

Beragam kisah seputar waria, pada akhirnya tersudut pada dua kelompok. Kelompok manusia pendosa, kelompok manusia yang membuat orang terpingkal, tertawa dan sekaligus menertawakannya. Namun bagi hati kecil saya, waria tetaplah seorang manusia yang memiliki hak hidup selayaknya manusia lain tanpa perbedaan di sana-sini.

 

Meski kenyataannya, masih banyak manusia lain yang mencemooh dan menganggap mereka sebagai sampah masyarakat. Tapi tidak sedikit pula yang memanfaatkan mereka sebagai pemuas nafsu dan materi.
Jeng Nita hanyalah sebagian dari kaum waria yang tersingkirkan nasibnya. Dia, seperti kebanyakan waria pada umumnya, mencari penghasilan dari “mejeng” (melacur – red) dan menjadi tukang urut.

 

Saya mengenalnya sekitaran tahun 2008 lalu, sebuah pengalaman bentuk lain, dimana saat itu saya sedang aktif melatih eksplorasi gerak di kawasan GOR Senen. Persinggungan saya kala itu tidak hanya dengan para pekerja seni maupun kelompok kesenian untuk wilayah tersebut namun juga masyarakat yang bermukim di kawasan itu.

 

Namun kedekatan saya pun akhirnya tertuju dengan Jeng Nita. Saya merasa bebas dan nyaman berada bersamanya. Terkadang dia pun bercerita tentang hari-hari yang baru saja terlewati atau kisah masa lalu yang sering membuatnya terpukul.

 

Misalkan saat dia jatuh cinta dan mempercayakan hatinya untuk seorang pria yang bersedia menjadi kekasihnya, waktu membuatnya melihat kenyataan di mana sang kekasih hanya ingin lubang anus dan harta bendanya. Jeng Nita hanya dijadikan tempat pemuas nafsu sekaligus pohon dana untuk menghidupi sang kekasih yang ternyata sudah beristri.

 

Belum lagi, jika dia menjadi tukang urut bagi para supir angkutan dan bis kota yang beroperasi seputar terminal Senen. Tak jarang dia menerima perlakuan kasar atau tidak dibayar. Namun kekuatan hatinya telah membuatnya lega dan merelakan segala bentuk pengalamannya sebagai maskot kawasan stasiun Kereta Api Senen.

 

Saya banyak mendapatkan pengetahuan baru dengan bersahabatkan Jeng Nita. Terkadang jika dia belum muncul, saya berusaha mencari atau bertanya pada warung yang biasa kami kunjungi bersama atau tempat dia sekedar duduk, melepas penat. Demikian juga jika saya tidak datang untuk beberapa waktu, Ibu warung bilang, Jeng Nita nanyain “mba yang botak”.

 

Sering saya mengajaknya singgah ke rumah Almarhum (Alm.) Bapak saya yang berada di kawasan kompleks perumahan pejabat di Kemanggisan, Jakarta Barat. Ya, tentunya, kehadiran Jeng Nita dan tamu-tamu saya menjadi perhatian mata-mata para aristokrat pemerintah itu yang mencibir saya dan Alm. Bapak, yang mengijinkan anaknya bergaul di jalan. Saya tidak perduli, toh saya tidak mendapatkan pelajaran hidup dari balik gerbang megah mereka tapi dari Jeng Nita dan kawan yang lainnya.

 

Hingga masuk masa jelang lebaran, seperti biasa, dua minggu sebelum dan sesudah lebaran kawasan Senen menjadi tempat yang sangat bertumpuk. Para polisi dan kroninya berjaga serta melakukan razia KTP. Saat itu kebetulan saya ada di lokasi, saya tahu Jeng Nita dan beberapa pedagang asongan tidak memiliki identitas pasti. Saya pun meminta mereka untuk masuk ke dalam ruangan sebuah komunitas seni di area GOR, namun apa yang terjadi, mereka kembali keluar dan diam.

Saya pun bertanya, “Kenapa keluar lagi?”

“Disuruh pergi, trus ditanya, siapa yang ngijinin masuk? Ya aku jawab, mbak yang botak…”, jawab seorang pedagang asongan.

Seketika itu juga saya emosi. Saya pun masuk, tanpa banyak bicara, saya langsung membanting hp (selular) ke dalam ruangan itu.

“Gak usah bicara soal seni dan sosial di depan gue kalo’ gak bisa berempati!”, teriak saya.

 

Dan dalam kondisi meledak, Saya langsung keluar mengejar mereka; Jeng Nita dan mbak pedagang asongan untuk memilih duduk di undakan gedung GOR.

 

Saya memilih menemani mereka untuk berjaga jika mereka terkena razia KTP. Tak lama salah satu dari pekerja seni itu menghampiri saya dan mencoba menjelaskan tapi saya semakin naik pitam, karena dia ingin membicarakan alasannya tanpa di depan Jeng Nita dan si mbak itu.

 

Akhirnya saya memaksa dan munculah alasan jika memasukan “mereka”, pasti barang-barang akan hilang.

 

Gila! Sekelompok seniman dan wadah kreatifnya memilih melindungi harta benda ketimbang keselamatan orang.

 

Sejak itu saya pun jadi enggan berkunjung ke tempat itu. Kemuakan saya makin memuncak saat kurang lebih kembali mengalami kejadian yang sama, di mana saat itu saya sedang bersama sahabat waria saya, bernama Ade Juwita, ke Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Namun apa yang didapat, tatapan jijik dan mencibir dirinya. Bahkan ada di antaranya yang enggan bersalaman, hanya melempar senyuman, saat saya memperkenalkannya sebagai sahabat saya.

 

Ah, terkadang para seniman memang naif!

 

Kini, sudah hampir masuk delapan tahun berlalu, tiba-tiba saya kembali teringat Jeng Nita. Namun saat ini, saya hanya dapat menuliskan kerinduan saya akan semangat dan keceriaannya. Keterbatasan saya untuk keluar rumah masih sulit untuk menemui dirinya.

 

Saya teringat saat di bulan puasa, dia bicara tentang kerinduannya pada kampung halaman di Sumatera Selatan, kerinduan pada Ibunya, kerinduan akan pulang yang tidak pernah bisa dilakukannya lagi, setelah puluhan tahun sejak tiba di Jakarta. Dia akhirnya memilih hidup di sekitaran Senen-Poncol, Jakarta Pusat.

 

Terkadang dia berbagi cerita tentang imajinasinya akan hidup setelah kematian jasad, di mana surga dan neraka bukan milik waria, tapi ada tempat yang disebutnya “nirwana dayang-dayang”, di mana waria-waria yang meninggal dunia akan bermukim di sana. Atau cerita curhatnya tentang salah satu komunitas waria yang tidak terlalu konsisten menerima kedatangan waria seperti Jeng Nita, bahkan hanya untuk mendapatkan jasa kesehatan.

 

Ah, masih banyak sekali kisah dan pengalaman yang berharga bersama Jeng Nita. Saya hanya bisa berharap, suatu hari hidupnya menjadi lebih baik, secara ekonomi, kesehatan, dan yang terpenting adalah pengakuan dan penerimaan masyarakat, bahkan bagi komunitas waria itu sendiri akan waria yang masih mendapati suatu jarak dalam laku hidupnya.

 

Pengalaman ini akhirnya menjadi sebuah refleksi tersendiri untuk lebih menghargai seorang manusia seutuhnya tanpa melihat perbedaan kelamin, ras, agama. Bagaimana pun, dalam sebuah siklus kehidupan, segala kompleksitas itu akan tetap ada dengan faktor latar belakang sejarah perjalanan manusia itu sendiri. Tetap berjuang, Sahabat!

 

*Penulis adalah seorang ibu rumahtangga yang gemar menari dan menulis. Aktivitas kesehariannya dihabiskan di rumah, berkumpul bersama anak-anaknya.